Memerangi Malaria Di Halmahera Selatan
Nama kapal besi itu ialah Mekar Teratai. Setiap malam kapal ini mengantarkan para penumpangnya dari Pelabuhan Bastiong, Ternate menuju Pelabuhan Babang di Labuha, Pulau Bacan. Penumpang sungguh banyak ketika itu, mereka naik berebutan dan sepertinya sedikit panik seolah-olah kapal dalam waktu dekat akan meninggalkan pelabuhan, padahal masih ada waktu sekitar satu jam lagi sebelum kapal sungguh-sungguh berangkat.
”Disini satu satunya alat angkutanyang diandalkan ya kapal ini,” sahut seorang penumpang.
Dari logatnya yang khas, sepertinya Bapak ini adalah perantau yang sedang mengadu nasib ke Maluku Utara. Sejak jalur penerbangan Ternate-Labuha tidak menentu, transportasi maritim menjadi andalan warga untuk melakukan perjalanan.
| Nama Inovasi | Pemberantas Malaria Halmahera Selatan |
| Pengelola | Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) |
| Alamat | Jl. H. A. Mappanyukki No.32, Makassar, Sulawesi Selatan 90125 |
| Kontak | Yayasan Bakti |
| Telepon | +62-411-832228/+62-411-833383 Fax: +62-411-852146 |
| Website | http://bakti.or.id |
Serupa dengan daerah lain di Kawasan Timur Indonesia, Maluku Utara mempunyai daerah perairan yang lebih banyak daripada daratan adalah 76,27% dari 140.225,32 km². Sebagian besar penduduk bermukim di daerah pesisir ke timbang di pegunungan.
Kebanyakan kawasan pesisir yang kini menjadi pemukiman kini yakni bekas rawa dengan banyak genangan air. Sebuah kawasan yang ideal bagi nyamuk malaria untuk berkembang biak. Tak heran bila banyak daerah di Maluku Utara, tergolong Halmahera Selatan menjadi kawasan endemis Malaria.
Halmahera Selatan mengalami Kejadian Luar Biasa akhir serangan malaria pada tahun 2003 hingga 2007. Pada kala itu daerah ini kehilangan 268 jiwa akhir penyakit malaria. Bahkan pada tahun 2005, Halmahera Selatan mengalami angka kejadian tahunan malaria (Annual Malaria Incidents) tertinggi, yakitu 80,2 persen!
”Sebagai dokter, ya salah satu peran aku ialah menyuntik penderita malaria dengan obat, tetapi sesudah pasien pulang ia terima suntik lagi dari nyamuk malaria. Saat itu kami memang masih berfokus pada pengobatan penderita saja,” terang Kepala Dinas Kesehatan Halsel dr. Mohammad Alhabsyi, yang kerap dipanggil Dokter Moh.
Setelah mengalami beberapa kali kejadian luar biasa yang menelan banyak korban itu, Dokter Moh mengakui mulai ada keperluan pendekatan baru dalam penanganan malaria.
“Perlu penanganan bareng alasannya adalah ini bukan tugas dan wewenang Dinas Kesehatan saja. Semua pihak harus ikut terlibat dan upayanya sendiri harus lintas sektoral,” tambahnya.
Saat itu Dokter Ahmad Aziz, Yudi dan Dokter Moh mulai merancang rancangan penanganan malaria terintegrasi.
“Kami mengawali perang melawan malaria dengan coret-coretan di selembar kertas lalu berbagi wangsit acara lintas sektoral ini ke dalam sebuah dokumen,” kenang Dokter Ahmad Azis yang rambutnya mulai memutih dengan semangat yang berkobar.
”Ada lima jurus paten yang mesti diamati dalam memerangi malaria adalah kapasitas sumber daya insan yang bagus, laboratorium medis yang mendukung, metode logistik yang besar lengan berkuasa, budget yang mencukupi, dan sistem pencatatan dan pelaporan yang terang,” jelas Dokter Aziz yang sudah berjuang melawan malaria semenjak tahun 1975.
Menindaklanjuti ilham permulaan tadi, konsep Malaria Center mulai disusun dan dikembangkan. Dokter Aziz bergerilya mencari pemberian dan mengadvokasi Gubernur Maluku Utara dan para Bupati. Perjuangan Dokter Azis menunjukkan hasil pada tahun 2004 dikala Gubernur Maluku Utara mendirikan Pusat Pelayanan Malaria terpadu yang dikenal dengan Malaria Center dan menghibahkan gudang obat di Tanah Tinggi.
Pendekatan yang dilakukan di Malaria Center menuntut keterlibatan dari penduduk pada seluruh proses. ”Partisipasi penduduk ialah kunci untuk mengungguli perang terhadap malaria,” terang Dokter Azis.
Metode Participatory Learning and Action (PLA) pun dipakai dalam program pemberdayaan masyarakat di Malaria Center. Bekerjasama dengan UNICEF, program ini melatih dua kader pejuang malaria dari masing-masing desa dengan misi utama mengetahui apa itu malaria, melaksanakan musyawarah penyusunan Rencana Kegiatan Masyarakat dalam memerangi malaria dan pembentukan Komite Malaria Desa.
Dengan cara ini masyarakat desa mendapatkan edukasi ihwal malaria dan selanjutnya mampu melakukan pemberantasan malaria berbasis masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas kehidupan mereka menjadi lebih sehat. Selain itu pemerintah daerah juga memberi perlindungan melalui dalam Alokasi Dana Desa Khusus (ADDK) Malaria untuk membiayai aneka macam aktivitas penanggulangan malaria.
Dalam Malaria Center sendiri terdapat banyak sekali komponen, seperti BAPPEDA, Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Dinas Perikanan, Dinas Pekerjaan Umum, bahkan Dinas Pendidikan. Ini menyebabkan Malaria Center selaku suatu pusat untuk koordinasi, komunikasi, berita dan aktivitas pemberantasan malaria.
”Anak-anak kami berguru mengenali jentik nyamuk malaria, kawasan perkembangbiakannya, dan bagaimana memberantas malaria. Dengan demikian mereka mampu menyadari dan mengerti bahaya malaria serta bagaimana menghindarinya,” ujar Bakri Samad, Staff Dinas Pendidikan Kabupaten Halmahera Selatan.
Tidak cuma memberantas malaria, Malaria Center juga berfungsi sebagai penunjang pelayanan kesehatan bagi ibu hamil dan balita. Bekerjasama dengan posyandu di tingkat desa dan dibantu oleh kader-kader posyandu, dikerjakan investigasi bersiklus dan diagnosis cepat malaria (Rapid Diagnostic Test – RDT) bagi ibu hamil dan balita. Malaria Center mengawamkan penggunaan kelambu berinsektisida bagi ibu hamil dan anak yang sudah menerima imunisasi lengkap.
”Integrasi pencegahan dan pengobatan malaria dengan layanan kesehatan ibu dan balita ialah keunikan Malaria Center. Belum ada program serupa di negara lain”, terperinci Dokter Santi, Malaria Officer dari UNICEF dengan gembira.
Malaria Center banyak menemui banyak tantangan dalam perjuangannya. ”Kondisi geografis Maluku Utara yang cukup susah, mengakibatkan distribusi obat sering terhambat. Memang kendala paling besar yang kami hadapi di kawasan seeperti ini ialah dalam hal logistik”, aku Firmansyah, Pengelola Program Malaria Dinkes Halsel.
Perjuangan dan kerja keras memerangi malaria sekarang telah menampakan hasil. ”Saat ini angka penurunan malaria cukup signifikan, ialah sekitar 45 persen bila dibandingkan dengan tahun 2003 hingga tahun 2008,” ujar Iswahyudi, Pengelola Program Malaria Dinkes Provinsi Maluku Utara.
Khusus di Halmahera Selatan dimana Malaria Center beroperasi semenjak 24 April 2010 jumlah penderita malaria menurun drastis. Jika pada tahun 2005 angka kejadian malaria tahunan kawasan ini yakni 80, maka tahun 2009 angka peristiwa malaria tahunan dipangkas menjadi 40,2 persen.
Hal lain yang menggembirakana ialah bahwa angka benalu malaria bagi bawah umur berumur kurang dari 9 tahun (Angka parasite Rate-PR) juga menurun dari 58,7 persen pada tahun 2007 menjadi 41,5 persen di tahun 2009. Jika pada tahun 2003 malaria menelan korban 205 orang maka di tahun 2009 korban meninggal akhir penyakit ini tinggal 1 orang saja.
Kerjasama antar berbagai pihak dan komitmen yang kuat dari Pemerintah pada aneka macam tingkat dan lintas sektoral serta partisipasi yang baik dari penduduk yakni kunci keberhasilan usaha melawan malaria. Perang melawan malaria belum usai, namun sekarang semua pihak telah melakukan pekerjaan sama dan bergandeng tangan untuk mengungguli pertempuran ini.
Sayup-sayup terdengar suara warga desa bernyanyi ”Marilah berantas nyamuk malaria, yang suka menggigit warga desa kita, berantas berantas nyamuk malaria, semoga warga desa sehat sejahtera.”
Sumber:Praktik Cerdesa Yayasan Bakti
Originally posted 2018-04-13 02:45:56.
0 Response to "Memerangi Malaria Di Halmahera Selatan"
Post a Comment