Boboko, Produk Kerajinan Bambu Desa Cikahuripan Yang Tembus Pasar Ibukota
Produk Kerajinan Bambu Skala Rumahan
Desa Cikahuripan berada di Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Lokasinya berada di sebelah utara Kota Sukabumi atau sekitar 30 menit perjalanan memakai kendaraan bermotor dari pusat kota.
Selain menekuni pertanian, masyarakat Desa Cikahuripan memproduksi aneka produk kerajinan bambu dari anyaman bambu, terutama untuk berupa perabotan rumah tangga, mirip boboko (bakul), tampah, dan kukusan. Boboko menjadi produk unggulan desa alasannya adalah angka penjualan komoditas ini senantiasa tinggi dibanding produk kerajian bambu yang lain.
Pembuatan Boboko dilakukan oleh industri-industri rumahan di Desa Cikahuripan. Para pengrajin menjalankan Boboka sesudah mereka bekerja di sawah maupun ladang. Proses pengerjaan Bokoko sungguh rumit, memerlukan skill khusus, dan memerlukan waktu cukup lama. Hampir semua warga asli Cikahuripan memiliki skill membuat Boboko berkat wawasan dan keahlian yang diturunkan oleh nenek moyang mereka.
Proses Pembuatan
Pembuatan Boboko selalu dijalankan dikala-saat kalem dan luang. Masyarakat Cikahuripan juga menolak pesanan Boboko dalam jumlah banyak dan cepat. Boboko yang bagus dan bermutu cuma mampu diproduksi saat warga dalam situasi rileks dan besar hati. Karena itu, masyarakat Desa Cikahuripan tak pernah menempatkan produksi Boboko sebagai mata pencaharian utama oleh mereka.
Proses pengerjaan Boboko dimulai dengan memilah bilah bambu sebagai bahan dasar. Bambu yang bagus harus memiliki panjang ruas tidak kurang dari 80 cm. Setelah mendapatkan ruas bambu yang cocok, kemudian bilah bambu dibelah kecil kecil dan diraut atau dihaluskan. Setelah itu, rautan bambu dikeringkan dengan cara dijemur atau dengan panas bara api.
Bentuk Boboka beraneka ukuran, ada yang kecil, sedang, sampai besar. Rautan bambu harus mempunyai ketebalan yang serupa dan tingkat kadar air yang rendah. Tebal-tipisnya rautan mempengaruhi keluwesan dikala proses penganyaman. Tingkat kadar air akan memengaruhi kegetasan materi anyam, termasuk untuk menghindari tumbuhnya jamur pada Boboko. Semua proses dilaksanakan secara tradisional tanpa sentuhan teknologi modern.
Abah Shaleh (83), ialah warga Kampung Pameungpeuk RT 34, Desa Cikahuripan yang memproduksi Boboko. Dia mendapatkan skill membuat Boboko dari ayahnya. Kini, ketika usianya sudah lanjut, perjuangan pengerjaan Boboko dilanjutkan oleh anak dan cucunya. Abah Shaleh lebih banyak memerankan sebagai kontrol kualitas produksi. Bahkan, di dikala usianya sudah lanjut, Abah Shaleh tampakmasih cekatan dalam mengolah dan menganyam bilah bambu menjadi sebuah boboko.
Demikianlah postingan perihal Boboko, Produk Kerajinan Bambu dari Desa Cikahuripan yang bisa menembus Ibu Kota. Apabila Anda ingin dimuat peluangdesanya, silakan menghubungi admin. Gratis!
Originally posted 2018-05-07 10:08:20.
0 Response to "Boboko, Produk Kerajinan Bambu Desa Cikahuripan Yang Tembus Pasar Ibukota"
Post a Comment