Desa Citengah Lestari Dengan Pariwisata

Dikelilingi Sungai Cihonje, Citengah, dan Citundun, Desa Citengah subur dan banyak mata air. Wilayah itu dikaruniai pemandangan alam yang memesona berbentukhutan pinus dan sejumlah riam. Ditambah keberadaan sejumlah situs bersejarah, lengkaplah kekuatan Citengah di bidang pariwisata. Aparat dan warga desa pun konsentrasi menjadikan Citengah selaku desa rekreasi.


Jumat (9/8/2019) pagi, kantor Desa Citengah di Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, telah berdenyut. Aparat desa berdatangan untuk melakukan pekerjaan melayani publik.


Di seberang kantor desa ada kios kawasan fotokopi dan penjualan alat tulis kantor yang masih tutup. Namun, tak berapa usang kemudian, Deni Safrudin Koswara (32), Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karya Mukti Desa Citengah, tiba dan membuka kios.


”Kios ini menjadi unit bisnis rintisan BUMDes sekitar tahun 2017,” katanya.


Namun, berdasarkan Deni, unit ini kurang menguntungkan alasannya adalah potensi desa tersebut ialah pariwisata. Umumnya alat tulis kantor lebih banyak dibutuhkan di kota. Sementara di desa yang berada di pelosok itu, alat tulis kantor tidak terlampau dibutuhkan.


Karena unit pemasaran alat tulis kantor tidak menciptakan keuntungan, tahun 2018 pengelola BUMDes mulai menyebarkan jasa pengelolaan parkir wisata, juga penjagaan kebun teh dan getah pinus.


”Unit bisnis ini dalam antisipasi dilelang. Kami kini lebih fokus membuatkan unit bisnis di sektor pariwisata,” kata Deni yang gres menjabat sebagai Direktur BUMDes tahun ini.


BUMDes yang diresmikan tahun 2016 itu mendapat tunjangan dana desa Rp 32 juta. Pada 2018, kembali mendapat kucuran dana desa Rp 100 juta.


Daerah wisata


Pengelolaan parkir dan jasa penjagaan dipandang berpeluang mengingat di desa yang terletak 86 kilometer (km) dari Kota Bandung ini terdapat sejumlah obyek rekreasi dan restoran yang dikontrol pihak swasta serta kebun teh.


Pada simpulan pekan, kunjungan wisatawan relatif tinggi ke desa ini. Sedikitnya 1.000 pengunjung dari beberapa daerah tiba. Mereka biasanya memakai kendaraan bermotor sehingga pengelolaan parkir dinilai memiliki potensi.


Salah satu destinasi wisata yang menjadi ikon Desa Citengah ialah Curug Gorobog, yang berjarak sekitar 4 km dari kantor desa.


Curug ini terdiri atas tiga tingkat gerojokan, dan dikenal juga selaku daerah untuk uji kedigdayaan atau kesaktian. Obyek rekreasi ini secara administratif berada dalam kewenangan Perum Perhutani, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jabar, dan Pemerintah Desa Citengah.


Di Citengah terdapat pula perkebunan teh, yakni di Dusun Cisoka yang berada di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan maritim dan di kawasan Margawindu. Luas seluruh kebun teh 146 hektar.


Jasa pengawalan kebun teh guna mengantisipasi pencurian melibatkan warga setempat sebanyak 15 orang. Pihak BUMDes juga membuka jasa penyewaan kendaraan beroda empat dan sound system.


”Dari aneka macam perjuangan jasa yang dibuka hingga sekarang telah menghasilkan pendapatan sekitar Rp 30 juta. Saat ini administrasi BUMDes masih terus dibenahi supaya lebih baik, utamanya untuk pengelolaan unit-unit bisnis biar lebih konsentrasi. Diharapkan PADes (pendapatan orisinil desa) juga akan meningkat,” ujar alumnus Institut Seni Budaya Indonesia Bandung tahun 2008 itu.


Pihak BUMDes juga akan membuka jasa kebersihan lingkungan dan keamanan jalan. Dengan demikian, lingkungan obyek-obyek rekreasi yang diatur swasta itu tersadar kebersihannya. Pihak pengurus obyek wisata, mirip Kampung Karuhun, tidak perlu repot mengorganisir perparkiran ataupun kebersihan di luar kompleks.


Terminal desa


Saat ini pihak BUMDes sedang dalam perencanaan pembangunan terminal yang mengambil lahan tanah milik desa seluas satu hektar. Terminal tersebut salah satunya untuk menghemat kemacetan kemudian lintas saat padat kunjungan arus turis.


Di terminal yang letaknya berdampingan dengan Sungai Cihonje, selain daerah parkir, juga akan dibangun sejumlah wahana, misalnya rekreasi air mirip arung riam.


Kepala Desa Citengah Otong Sumarna menyampaikan, tahun ini, dari total dana desa Rp 1,4 miliar, sebagian akan dialokasikan untuk pembangunan terminal sebesar Rp 247 juta.


”Dukungan dari dana desa ini untuk pembebasan lahan di sekeliling terminal, terutama untuk akses jalan. Pembiayaan tidak meminta perlindungan dari APBD kabupaten semoga ini benar-benar menjadi aset dan dikontrol BUMDes,” ujar Otong.


Pihak BUMDes juga menyiapkan menata sejumlah daerah yang potensial untuk menjadi destinasi wisata baru di Citengah. Penataan tersebut meliputi beberapa situs peninggalan abad Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), perusahaan jualan Hindia Timur Belanda.


”Ada bekas jalan delman di Dusun Cisoka, juga semacam rel lori untuk memuat komoditas teh di tempat hutan Kareumbi. Pohon teh bau tanah di dalam hutan ini masih ada dan tinggi-tinggi,” kata Deni.


Penataan tempat untuk destinasi rekreasi mengasyikkan Adim (54), warga Dusun Cisoka. Makin banyak pelancong datang berarti semakin banyak rezeki untuk warga desa.


”Di sini memang ada sejumlah peninggalan kolonial Belanda, tetapi belum banyak masyarakat yang mengetahui. Pohon-pohon teh renta yang tinggi-tinggi juga masih ada di dalam hutan. Di sini juga ada daerah yang diyakini selaku petilasan Ratu Pantai Selatan Nyi Roro Kidul. Dengan penataan tempat wisata, diperlukan Cisoka kian luas dikenal dan banyak dikunjungi pelancong,” ujar Adim.


Destinasi gres


Menurut Deni, di Citengah terdapat makam para ulama, pendiri Citengah, dan nenek moyang raja-raja Sumedang, yang berpotensi menjadi destinasi wisata ziarah atau sejarah.


”Adanya makam di sebuah tempat memberikan di kawasan itu ada kehidupan sebelumnya. Kawasan Citengah terbukti selaku tempat yang subur, hutannya masih cantik, juga kaya sumber air bagi kehidupan,” kata Deni.


Sebanyak 23 curug yang belum terkenal akan ditata. Prioritasnya adalah curug yang letaknya relatif erat dengan kantor desa, 4-7 km, yaitu Curug Kencana, Curug Cimencek, dan Curug Pasir Heulang.


Kawasan Curug Kencana akan dijadikan destinasi wisata budaya. Di tempat itu akan dibangun wahana edukasi permainan anak tradisional, antara lain panahan, egrang, dan gatrik.


Destinasi wisata gres itu, kata Deni, diupayakan bisa dibuka tahun depan. Diharapkan ini bisa membuka lapangan kerja untuk petugas tiket, menambah pasar bagi homestay (rumah inap) dan rumah akhlak, bisnis kuliner, jasa pengawalan, dan juga penjualan cenderamata.


”Semua unit bisnis akan dikelola dengan tata cara teknologi info. Para karyawan diambil dari warga setempat. Ditargetkan tahun 2020 mampu dicapai PADes sekitar Rp 200 juta. Kami juga menargetkan Desa Citengah mempunyai obyek rekreasi yang benar-benar diatur sendiri. Salah satu unggulan yakni Curug Kencana,” ujar Deni.


Keuntungan ekonomi yang diperoleh penduduk sekitar hutan dari wisata alam perlu didukung. Hal tersebut pada kesudahannya mampu menjamin pelestarian lingkungan.


Sumber: Kompas.id


0 Response to "Desa Citengah Lestari Dengan Pariwisata"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel