Desa Labuan Tangga Gres, Saat Bumdes Mengambil Peran Sebagai ’Bulog Sawit’

Desa Labuhan Tangga Baru merupakan desa yang secara administratif masuk Kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Desa ini dulunya menjadi desa tujuan transmigrasi dari pulau Jawa. Hal ini dimaklumi sebab lahan tidur di daerah ini masih cukup luas sampai sekarang. Saat ini Desa Labuhan Tangga Baru memiliki 494

KK dengan total penduduk meraih 2.120 jiwa.


Sebagai daerah ex-transmigran, mayoritas orangnya mempunyai mata pencaharian selaku petani/perkebunan, utamanya sawit. Hal ini dikarenakan keadaan topografi Kepenghuluan Labuhan Tangga Baru berada di dataran rendah dengan kondisi lahan gambut yang basah dan cuma cocok ditanami sawit.


Pada Tahun 2017, Desa Labuhan Tangga Baru mendapatkan anggaran sebesar 1, 5 Miliar dengan takaran Dana Desa sebesar 772 juta rupiah. Sesuai dengan kebijakan pemerintah pusat, maka sebagian besar dana digunakan untuk kenaikan infrastruktur desa.


Sesuai dengan karakteristik Desa Labuhan Tangga Baru sebagai penghasil sawit, maka pembangunan infrastruktur ditujukan untuk pengembangan akses desa semoga para petani sawit mempunyai jalan masuk lebih gampang dan cepat dalam mobilitas pengangkutan hasil sawit menuju pabrik pembuatan.


Hal ini dibutuhkan menjadi solusi bagi warga lokal yang memiliki saluran cukup jauh dari pusat perniagaan kota rokan hilir. Dengan sumbangan infrastruktur yang memadai, harga komoditas sawit akan mempunyai harga yang jauh lebih baik dan secara otomatis mendorong kenaikan kesejahteraan warga desa.


Sebagai komiditas utama desa, kebun sawit warga sering menghadapi kendala berbentukhama gulma. Memahami keadaan tersebut, Desa Labuhan Tangga Baru menetapkan memfokuskan penggunaan Dana Desa pada pembangunan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang akan menyediakan pupuk organik pemusnah gulma sawit.


Bukan hanya memberikan akomodasi bagi pemilik kebun sawit maupun warga desa, BUMDes tersebut akan berperan selaku ’bulog’ desa yang memainkan tugas stabilisator harga sawit. Hal ini dilakukan untuk mengimbangi permainan tengkulak yang sering menyengsarakan petani sawit dengan harganya yang jauh dibawah wajar .


Selain itu, BUMDes juga tidak hanya menjadi forum komersil yang membuka ruang lebih luas kepada masyarakat desa untuk meningkatkan pendapatan warga, namun juga diharapkan akan menyerap tenaga kerja lokal sebagai penggiat BUMDes.


Harapan warga, Dana Desa dapat terus digulirkan dan menjadi mendorong pembangunan desa sehingga berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan. Hal ini tentu sejalan dengan program Nawacita Presiden RI yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-tempat dan desa dalam kerangka negara kesatuan.


Setahap demi setahap, desa mulai menata sendiri kesejahteraannya. Merencanakan dan membangun peradaban lokal, yang lama tidak tersentuh pembangunan.


Semua kisah itu, dimulai dari sinergi perangkat desa bareng warga. Pengelola dana desa yang amanah dan penduduk yang kontributif, menjadi pilar penting dalam mendukung terwujudnya tujuan final penyaluran dana desa berbentukkenaikan kesejahteraan warga.


Positioning Desa Labuhan Tangga Baru yang memang penghasil sawit sungguh tepat kalau disukung dengan pembangunan infrastruktur dan BUMDes yang khusus dalam pengembangan sawit. Dengan susukan mobilitas sawit yang gampang didukung BUMDes yang menjaga stabilitas harga, potensi sawit mampu makin ditingkatkan. Sebuah opsi yang cerdas!


0 Response to "Desa Labuan Tangga Gres, Saat Bumdes Mengambil Peran Sebagai ’Bulog Sawit’"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel