Inovasi Pompa Mikrohidran Bikin Warga Kampung Mesi Tak Perlu Lagi Berlangsung 1 Kilometer Untuk Menimba Air
Derita kesulitan air minum dituntaskan dengan pembangunan instalasi air minum memakai sistem mikrohidran (tata cara air tolak air) dari dua sumber mata air. Kini, warga Kampung Mesi cukup memutar kran air yang ada di samping rumah. Mereka tak perlu berjalan kaki berkilo-kilo meter untuk menimba air.
Kampung Mesi terletak di Desa Mbata, Kecamatan Kota Komba Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Berkat inovasi pompa mikrohidran, para perempuan desa tak perlu bersusah payah untuk menerima air higienis, baik untuk minum, mencuci pakaian, memandikan anak-anak, serta beragam keperluan rumah tangga.
Pembangunan pompa mikrohidran dipelopori oleh para cowok desa yang tergabung dalam Karang Taruna Tunas Bakti Desa Mbata. Pemerintah desa mendukung ide itu dengan menggelontorkan anggaran dari Dana Desa 2020.
Pembangunannya dijalankan Oktober 2020 dikala pandemi Covid-19 tengah melanda. Pompa mikrohidran mengalirkan air dari dua sumber mata air di Desa Mbata, adalah Wae Sele dan Wae Sior. Selanjutnya, air disalurkan melalui instalasi pipa air bersih ke rumah-rumah warga.
Sebelum ada pompa mikrohidran, warga Kampung Mesi mengambil air yang jaraknya cukup jauh. Setiap pagi dan sore, beliau berlangsung kaki dari rumah ke dataran rendah untuk menimba air minum di sumber mata air Sele dan Sior. Mereka biasa memikul jerigen dengan jalan mendaki.
Inovasi dan kreativitas para perjaka Desa Mbata mendapatkan apresiasi aktual dari Bupati Manggarai Timur. Dia berharap penemuan ini bisa membangkitkan semangat para pemuda yang lain untuk pulang dari kota dan berkarya di kampung sendiri.
Air ialah sumber kehidupan. Kaum wanita menjadi subjek yang paling terdampak dikala rumah tangga kesulitan air minum dan air bersih. Kaum perempuan memikul tanggung jawab cukup besar untuk memutuskan setiap orang di dalam rumah memiliki jalan masuk kepada air.
Kini, sebanyak 70 kepala keluarga dari 3 rukun tetangga (RT) yang bertempat tinggal di Kampung Mesi sudah menikmati layanan air minum higienis dengan metode pompa hidram. Setiap rumah tangga mampu dipenuhi sebanyak 60 liter per kepala keluarga dengan kapasitas kolam penampung mencapai 8.000 liter lewat metode buka tutup 2 kali sehari dan memakai kran tongkang.
Awalnya gagasan penggunaan pompa mikrohidran disambut pesimis warga. Pesimisme itu menjadi motivasi bagi para perjaka untuk fokus menuntaskan pekerjaan ini. Berkat doktrin dan pinjaman dari pemerintah desa yang menunjukkan budget mimpi dan kerja perjaka dapat terwujud.
Biaya untuk merakit peralatan pompa hidram ini tidak terlalu besar, kurang lebih Rp 130 juta. Inovasi tersebut membawa faedah jangka panjang dan ketersediaan air yang melimpah bagi warga kampung.
Untuk keberlanjutan acara, Karang Taruna Tunas Bakti, Desa Rana Mbata tengah merekomendasikan supaya Pemda Kabupaten Manggarai Timur menerapkan peraturan tempat perlindungan mata air berdasarkan etika suku Manus.
Menanggapi seruan Pemuda Karang Taruna Tunas Bakti, Bupati Andreas berjanji Pemda Kabupaten Manggarai Timur siap menghibahkan anggaran senilai Rp 600 juta pada budget 2022 untuk pembangunan pagar di sekitarsumber mata air Wae Sele dan Wae Sior.
0 Response to "Inovasi Pompa Mikrohidran Bikin Warga Kampung Mesi Tak Perlu Lagi Berlangsung 1 Kilometer Untuk Menimba Air"
Post a Comment