Lele Mutiara, Inovasi Perjaka Desa Tulaan Lahirkan Lele Varietas Unggul
Para cowok Desa Tulaan berhasil membuatkan benih lele varietas unggul dengan laju perkembangan yang cepat. Lele Mutiara, demikian sebutan bagi varietas ini, merupakan jenis ikan budidaya hasil persilangan dari empat strain, yaitu lele Mesir, lele Phyton, lele Sangkuriang, dan lele Dumbo. Usia panen relatif singkat antara 60 hari sampai 75 hari.
Desa Tulaan terletak di Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil, Aceh. Para pemulia Lele Mutiara tergabung dalam Kelompok Satu Kata. Mutiara merupakan singkatan dari Mutu Tinggi Hasil Tiada Tara. Kelompok Satu Kata sukses membuktikan keunggulan varietas jenis ini dengan berhasil memanen 500 Kg ikan lele dari 5.000 ekor benih.
Pengembangan lele di Desa Tulaan banyak mempergunakan bak Bioflok. Sistem bioflok ialah tata cara budidaya dengan memanfaatkan mikroorganisme untuk mengolah limbah budidaya itu sendiri. Dengan menumbuhkan mikroorganisme, limbah budidaya ikan lele akan menjadi gumpalan-gumpalan kecil (flok).
Gumpalan-gumpalan yang terdiri dari berbagai mikroorganisme air mirip bakteri, algae, fungi, protozoa, metazoa, rotifera, nematoda, gastrotricha, dan organisme lain yang tersuspensi dengan detritus, lalu menjadi kuliner alami ikan.
Selain mempergunakan bak bioflok, Kelompok Satu Kata membuat terobosan dan penemuan untuk penghematan pakan budidaya lele. Mereka berinisiatif untuk menyebarkan tanaman ganggang jenis azola. Ganggang ini berfungsi sebagai kuliner perhiasan untuk menghemat ongkos pakan sehingga meningkatkan margin laba.
Sebelum membentuk golongan, para pemuda di Desa Tulaan itu menciptakan bak rumahan dengan plastik terpal dan bambu seadanya. Pembentukan kelompok ialah ide bersama untuk berbagi keterampilan bareng sekaligus mengajak perjaka agar tidak terjerumus narkoba.
Lalu, perusahaan Perkebunan PT Socfindo Kebun Lae Butar, Aceh Singkil mendukung kalangan ini dengan tunjangan paket kolam bioflog, 5.000 benih, pakan, serta obat-obatan.
Awalnya, hasil kolam langsung dipasarkan secara setempat. Lalu, pemasaran berkembang meraih seruan pasar di Kecamatan Gunung Meriah dan Singkil. Harga eceran antara Rp 25 ribu sampai Rp 28 ribu perkilogram. Untuk grosir, harga lele sekitar Rp 18 ribu perkilogram.
Inovasi para perjaka yang tergabung dalam Kelompok Satu Kata mendapat apresiasi dari banyak pihak. Usaha Kelompok Satu Kata akan menjadi pilot percontohan bagi desa-desa lain di Kecamatan Gunung Meriah. Kelompok ini dibutuhkan menjadi motor penggagas dan menyebarkan ilmu untuk pembinaan ekonomi desa di Aceh Singkil.
0 Response to "Lele Mutiara, Inovasi Perjaka Desa Tulaan Lahirkan Lele Varietas Unggul"
Post a Comment