Budidaya Maggot Dengan Memanfaatkan Sampah Organik

Potensidesa.com–Pemanfaatan sampah dikenal selaku solusi dalam menyelesaikan problem sampah. Bank Sampah Nusantara Cilacap di Pondok Pesantren Al Ihya ‘Ulumaddin Kesugihan atau lebih dikenal dengan BSN Al Ihya mempunyai tujuan pengolahan sampah. Pihak BSN melakukan budidaya Maggot dengan memanfaatkan sampah organik. Ini semua ihwal kemandirian pesantren. BSN Al Ihya diresmikan pada tahun 2012. BSN Al Ihya berperan dalam mengorganisir sampah pesantren, menyeleksi sampah dari pesantren, yaitu memisahkan sampah organik dan anorganik yang masih mampu dimanfaatkan kembali.


Sampah anorganik diubah menjadi komoditas yang memiliki nilai jual. Sedangkan sampah organik dipakai untuk membuat kompos . Namun, pengomposan memerlukan waktu yang usang dan memerlukan ruang yang cukup besar. Karena sampah organik yang kian hari bertambah banyak,hal ini memuncukan ide untuk mengelola sampah organik untuk pakan lalat BSF.


“Dalam sehari, sampah organik Pondok Al Ihya mencapai 250 sampai 300 kilogram. Jika dalam proses pengomposan memakan waktu usang, memakan banyak daerah dan mengeluarkan wangi tidak sedap.Makara kita ganti dengan mengolahnya memanfaatkan Maggot BSF,” ujar Dedi Alfian selaku pengelola budidaya lalat BSF di BSN Al ihya Ulumaddin.


Menurutnya, belatung BSF (Black Soldier Fly) yang nama latinnya hermetia illucens, atau Lalat Tentara Hitam dalam bahasa Indonesia, ialah lalat yang membawa banyak manfaat bagi insan. Selain pengurai sampah organik, maggot BSF ini mempunyai nilai hemat dan ialah sumber protein untuk pakan ternak. Tahap hidupnya relatif singkat, rata-rata hanya 7 hari, dan BSF ialah lalat yang tidak menyebabkan penyakit pada manusia.


Pada permulaan mengurus Maggot BSF kami mempunyai sangkar 4 box. Sekarang ada 24 kotak. Membuat belatung juga sederhana dan kita mampu memancing di alam dengan media sampah organik. Beli telur juga bisa lewat budidaya lalat BSF,” Ungkap Dedi Alfian.


Tahapan budidaya Maggot BSF

Siklus lalat BSF mempunyai 5 tahapan, yaitu telur, larva kecil, maggot, maggot segar, lalu prapupa, pupa, dan lalat. Usia ialah 35 hari dari awal siklus ini. Lalat BSF bertelur selama kurang lebih 3 hari dan sudah menetas. 5 hari sesudah menetas menjadi larva kecil


Belatung mentah berumur 15-17 hari ketika besar, dan kandungan proteinnya tinggi pada waktu itu. Biasanya bagi petani, abad panen adalah 15 hari. Mulai gelap setelah 20 sampai 25 hari, namanya pra pupa. Prapupa tidak lagi ingin makan, tetapi masih hidup. Biasanya ia akan mencari tempat yang tenteram untuknya menjelma kepompong. Setelah itu 35-40 tahun menjadi lalat.


“Produk budidaya maggot lumayan banyak untuk 5 siklus pertama. Dari segi penjualan telah sampai ke Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Sumatera. Produk yang kami jual adalah maggot kering, prepupa, telur maggot. Kami beroperasi secara mandiri Pendapatan dari penjualan .Sejak permulaan kami sungguh ingin merealisasikan kemandirian pesantren, paling tidak kami tidak perlu mengeluarkan biaya apapun terkait pembuangan sampah.Tim kami beranggotakan 8 orang, yang status nya masih menjadi santri aktif Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap.


Harga maggot mulai dari Rp 3.500 per gram telur, maggot segar mulai Rp 7.000 per kilo, pra pupa mulai Rp 45.000, pupa mulai Rp 70.000 dan maggot kering mulai Rp 60.000. “Kami panen 20 kilogram sehari.


0 Response to "Budidaya Maggot Dengan Memanfaatkan Sampah Organik"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel