Bumdes Amarta Kelola Sampah Jadi Pundi-Pundi Rupiah

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Amarta Desa Pendowoharjo mampu mengubah semua persepsi negatif tentang Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang terkesan kotor dan amis. Meski berada di lingkungan TPS, kantor Bumdes Amarta terlihat asri, higienis, rapi, dan tidak wangi. BUMDes Amarta bisa mengubah sampah menjadi pundi-pundi rupiah


Desa Pendowoharjo terletak di Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Keputusan BUMDes Amarta untuk mengelola sampah bukanlah tanpa alasan, bukan pula alasannya adalah tidak ada kesempatanlain. Keinginan untuk merealisasikan lingkungan yang sehat dan higienis mendorong BUMDes untuk mengorganisir TPS yang sebelumnya tidak dikontrol dengan baik.


Bumdes Amarta menyaksikan problem sampah sebagai peluang untuk menunjukkan eksistensinya dalam memperlihatkan benefit kepada masyarakat desa. Bermodal permulaan Rp 50 juta, Bumdes Amarta mengawali bisnisnya dengan memilah sampah organik dan anorganik yang dikumpulkan oleh tukang sampah dari rumah maupun warung yang ada di sekitaran Desa Pandowoharjo.


Sistem pengumpulan sampah mengandalkan tukang sampah desa bukan pegawai Bumdes. Bumdes memperlakukan mereka selaku mitra kerja, di mana para petugas cukup mengeluarkan uang retribusi berkala kepada Bumdes.


Pegawai Bumdes Amarta mengatasi penyeleksian sampah sesuai dengan kategorinya, seperti sampah organik, sampah anorganik, dan residu. Proses pemilahan ini dilakukan dengan secepatnya dimana sampah tidak dibiarkan menumpuk terlalu lama. Inilah kunci yang dikerjakan oleh TPS Bumdes Amarta agar TPS tidak berbau.


Dari hasil pilahan tersebut, sampah anorganik dikelompokkan lagi mirip botol, kardus, dan plastik untuk dijual. Sampah organik difermentasi menjadi pupuk kompos. Proses fermentasi ini sendiri lazimnya mengkonsumsi waktu kurang lebih 3-4 ahad. Sisanya, adalah sampah residu, dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang diatur oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman.


Selain mengelola sampah, Bumdes Amarta juga mempunyai unit perjuangan yang lain yang juga menjadi sumber pendapatan. Bekerjasama dengan Resto Jejamuran yang terkenal dengan kuliner serba jamur, Bumdes Amarta membuka Toko Desa sebagai wadah penjualan produk-produk desa di lapangan parkir resto. Pihak resto juga menolong menawarkan materi baku pupuk dari bekas media tanam jamur dan menyerahkan pengelolaan sampah kepada Bumdes Amarta.


Bumdes Amarta juga mengembangkan perkebunan sayuran berafiliasi dengan Kader Sarasvati Desa Pandowoharjo. Hasil kebun menjadi materi baku untuk dimasak di Taman Kuliner Pandowo maupun di rumah tangga dan warung di sekeliling desa.


Tidak berhenti di situ saja sisa limbah organik yang dihasilkan di Taman Kuliner, rumah tangga, dan warung makan di sekitar desa ini nantinya akan kembali lagi ke TPS Bumdes Amarta untuk diolah menjadi kompos.


Siklus ini akan terus berputar sehingga rantai bikinan akan terus berjalan. Bumdes Amarta sudah memperhitungkan siklus hidup dari produk yang mereka olah sebaik mungkin.


Bumdes Amarta berdiri pada Juni 2016. Pada laporan keuangan 2017, omset BUMDes mencapai Rp 200 juta dengan keuntungan sebesar Rp 37 juta. Dari usaha itu, Bumdes Amarta bisa menyumbangkan PADes sebesar Rp 15 juta.


0 Response to "Bumdes Amarta Kelola Sampah Jadi Pundi-Pundi Rupiah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel