Bumdes Beras, Desa Purwodadi Bangkitkan Asa Kemakmuran Petani
Pertanian identik dengan kemelaratan dan ketidakberdayaan. Namun, petani di Desa Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, menjajal menepis hal itu dengan membentuk tubuh usaha milik desa beras.
Potensi pertanian padi di Desa Purwodadi tergolong cukup baik. Luas lahan padi di sana 125 hektar (ha), dengan jumlah petani padi 120 orang. Adapun jumlah masyarakatdesa itu 5.725 orang, sebagian bekerja sebagai pedagang, pekerja pabrik, petani, dan pegawai negeri sipil.
Pola penjualan hasil pertanian padi di Desa Purwodadi selama ini masih tradisional. Saat siap panen, petani akan menyerahkannya kepada tengkulak untuk menebas atau membeli sebelum dipanen. Tidak ada hitungan hasil panen per kilogram. Yang ada, tengkulak seenaknya memilih harga beli dan petani hanya mampu pasrah.
Tengkulak rata-rata berbelanja gabah petani dengan harga Rp 25 juta per hektar. Tidak pernah ada hitungan berapa hasil produksi setiap hektarnya.
Melihat kenyataan itu, Pemerintah Desa Purwodadi bareng pegiat desa lokal mencari solusi. Pada September 2018, dibentuklah BUMDes beras dengan nama Adi Karya Dadi Mulyo.
”BUMDes beras ini dibuat maksudnya yaitu berbelanja gabah petani dengan hitungan per kg. BUMDes kemudian mengolah dan lalu menjual beras dengan merek Dadi Wareg,” kata Kepala Desa Purwodadi Mulyono, Sabtu (9/2/2019).
Saat itu BUMdes dibuat dengan penyertaan modal dari dana desa sebesar Rp 25 juta. Ditambah penyertaan modal dari pihak ketiga Rp 75 juta, modal yang dikantongi BUMDes Rp 100 juta. Pembelian gabah petani dimulai pada Oktober 2018.
Setelah BUMDes beras terbentuk, gabah milik petani dibeli dengan hitungan per kg, sesuai harga yang ada ketika itu. Hasilnya, dalam satu hektar lahan, petani bisa mendapat hasil Rp 30 juta. Ada kenaikan pendapatan petani berkisar 20-30 persen dibandingkan dengan ketika ditebas oleh tengkulak.
Harga pasar
Harga gabah di tingkat petani naik turun sesuai isu terkini dan menyesuaikan harga pasar. Namun, rentang harga gabah dari BUMDes berkisar Rp 4.500 -Rp 4900 per kg.
Awalnya, cuma seorang petani yang mau menjual hasil panennya pada BUMDes. Itu pun ialah perangkat desa. Berikutnya, petani yang memasarkan hasil panennya ke BUMDes bertambah. Hingga Desember 2018, ada enam petani yang mencicipi faedah dan laba BUMDes.
Total beras yang dihasilkan BUMDes pada Desember 2018 meraih 10 ton dan telah laris terjual pada pembeli. Pembelinya selain masyarakat lazim juga rumah makan di desa tersebut. Bahkan, untuk memenuhi keperluan bulan-bulan berikutnya, rumah makan di sana telah memesan beras 2 ton per bulan.
”Awalnya petani menduga kami sama saja dengan tengkulak. Namun, begitu kami berbelanja gabah mereka per kilogram, mereka akibatnya bersemangat menjual ke kami. Panen Maret mendatang sudah ada 10 petani lagi mau memasarkan panen ke kami,” kata Djaelani Sutomo (63), Ketua BUMDes Adi Karya Dadi Mulyo.
Djaelani menyampaikan, contoh tebas selama ini menjadikan petani sama sekali tidak tahu produktivitas lahan. Akibatnya, mereka bekerja dengan apa adanya. Sebab, meski akibatnya manis, penghasilan mereka tidak kunjung bertambah.
”Dengan pembelian gabah oleh BUMDes, petani setidaknya tahu produktivitas mereka. Dengan demikian, mereka ada semangat bekerja lebih baik lagi supaya pada panen berikutnya jumlah panen meningkat,” kata Djaelani yang juga pensiunan pegawai Pertamina tersebut.
Selama ini jika dirata-rata, produktivitas lahan sawah di Desa Purwodadi hanya 5 ton sekali panen. Padahal, berdasarkan Djaelani, kesempatanlahan dengan pengairan yang baik di sana semestinya mampu meraih 7-8 ton per hektar.
Dengan menawarkan harga beli yang baik, petani padi Desa Purwodadi akan semakin antusiasmengolah lahan. Mereka tentu ingin menghasilkan panen lebih baik dari waktu ke waktu agar pendapatan juga terus bertambah.
Meski BUMDes Adi Karya Dadi Mulyo belum genap berusia setahun, prospek bisnisnya terbilang baik. Mereka sudah mempunyai pelanggan tetap dan sedang menjalin perundingan dengan minimarket untuk menjual beras Dadi Wareg lewat pasar terbaru.
Saat ini, beras Dadi Wareg yang memiliki kualitas elok juga dirasakan oleh penerima Program Keluarga Harapan (PKH) di desa itu. ”Rakyat kecil sekarang sudah menikmati beras enak. Bukan beras jatah dari pemerintah yang kadang kualitasnya tidak begitu baik,” kata Djaelani.
Usaha BUMDes Adi Karya Dadi Mulyo juga sudah menghadirkan laba. Pada final 2018, BUMDes untung Rp 5 juta. ”Memang masih kecil. Namun, nilai lebihnya ialah sistem ini telah menyemangati petani untuk terus bertani dengan baik. Sebab, semakin baik mereka bertani, kian baik pula jadinya.
Semoga ke depan produktivitas padi berkembangsehingga laba petani dan BUMDes juga meningkat,” kata Djaelani.
Tahun 2019, BUMDes Adi Karya Dadi Mulyo menargetkan bisa mengembangkan serapan gabah pada 30 persen lahan sawah di sana.
Selain mengurusi beras, BUMDes Adi Karya Dadi Mulyo juga memiliki unit perjuangan lain, adalah kios usaha kecil menengah (UKM), pasar, dan bank sampah. Dengan semakin cerahnya kala depan BUMDes itu, bawah umur muda setempat juga mulai mau terlibat untuk melakukan pekerjaan mengelola BUMDes.
Sumber: Kompas.id
0 Response to "Bumdes Beras, Desa Purwodadi Bangkitkan Asa Kemakmuran Petani"
Post a Comment