Desa Oi Bura, Dana Desa, Pembebas Jeratan Riba
Tak banyak orang yang tahu di mana Oi Bura berada. Oi Bura bahkan tak pernah disebut dalam pelajaran Geografi. Butuh sekitar lima jam perjalanan dari Kota Bima untuk mampu sampai di Desa Oi Bura, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Jaraknya sekitar 194 km dengan medan yang berlika-liku. Dari Woha, ibukota Kabupaten Bima, cuma 30 menit lebih cepat.
Kecamatan Tambora bersama dengan Kecamatan Sanggar punya keunikan, karena merupakan enklave (daerah kantong), ialah wilayah yang terpisah dari Kabupaten Bima, dan dikelingi oleh Kabupaten Dompu. Untuk meraih lokasi, dari Bima terlebih dulu melalui daerah Kabupaten Dompu, kembali masuk wilayah Kabupatem Bima, lalu kawasan Kecamatan Tambora.
Untuk menuju ke sana, mesti menyusuri kawasan barat Gunung Tambora, karena jalan dari segi timur gunung adalah melalui daerah Kecamatan Sanggar jalannya masih banyak yang rusak. Sampai di Desa Calabai Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu,perbatasan terakhir dengan Kecamatan Tambora, sekitar 175 km dari Kota Bima, jalan aspal mulai rusak.
Mulai masuk Desa Oi Bura dari Desa Labuhan Kenanga, desa terakhir di pinggir jalan besar yang ada penyeberangan ke Danau Satonda, mesti melalui jalan off road tanah sepanjang sekitar 3 km.
“Kami ibaratnya lahir di kolong pohon kopi, tetapi dari sejak dahulu kami tidak tahu bagaimana cara memperlakukan biji kopi dengan benar. Apalagi pemasarannya. Kami cuma punya kopi, tetapi tidak kuasa menentukan harga. Kami pasrah dengan harga yang ditentukan tengkulak”.
Kopi dipanen setahun sekali, biasanya sekitar bulan Juli. Selama setahun itu, mereka mencukupi kebutuhan hidup berupa masakan dan lain-lain dengan dipasok oleh tengkulak. Pembayaran dilaksanakan dengan kopi saat panen.
Karena cara panen dan pembuatan tidak patokan, biji kopi mentah dihargai paling tinggi 22 ribu/kg oleh tengkulak. Apabila ternyata hasil panen tidak impas dengan utang, bunga utang akan membesar berkali lipat, yang bisa jadi tidak terbayar lunas juga di tahun selanjutnya. Sebuah perputaran hidup yang sungguh pahit, melebihi pahitnya kopi.
Kini, mulai banyak orang sadar tak ingin terjerat riba. Keadaan kadang memaksa kita menerima riba. Butuh sesuatu, tidak punya duit, lalu meminjam duit dikenakan bunga. Terpaksa.
Hal itu pula yang dialami banyak petani, termasuk petani kopi di Oi Bura. Mereka kekurangan modal dan biaya hidup kemudian meminjam uang ke tengkulak. Riba!
Pada zaman Belanda, terdapat perusahaan yang membuka perkebunan kopi pada tahun 1930-an, yang para pekerjanya didatangkan dari Jawa dan NTT. Sebagian anak turunannya masih menetap hingga saat ini. Kemudian ada pendatang dari Suku Sasak Lombok dan Mbojo dari Bima. Saat ini, ada 340 kepala keluarga atau 1.300 orang tercatat sebagai warga desa Oi Bura.
Usaha untuk melepaskan diri dari riba itu dimulai pada tahun 2016. Berdasarkan musyawarah seluruh unsur desa, ditentukan untuk mendirikan BUMDesa Tunas Muda dengan modal permulaan 130 juta. Pada tahun 2017, penyertaan modal ke BUMDes lebih besar, 200 juta. Tujuannya mulia, agar hasil panen kopi dapat lebih dihargai konsumen.
Caranya sederhana saja, kopi akan dibeli BUMDes atau petani akan menitipkan kopi di doom (tempat penyimpanan) untuk kemudian dimasak dengan lebih baik. Setelah itu, barulah kopi akan dipasarkan dalam skala yang lebih besar, sehingga mempunyai daya tawar yang lebih tinggi.
BUMDes menciptakan alat penjemuran kopi khusus, yang mampu menciptakan kopi kering sekitar 400kg/bulan. Dengan perlakuan yang benar, persyaratan yang dihasilkan ialah kualitas internasional, yang harga mentah bisa mencapai Rp150ribu/kg.
BUMDes juga membeli mesin pemisah biji kopi, yang fungsinya memisah biji kopi menjadi empat tingkatan. Bagian terbaik, kopi dengan biji besar dan utuh, akan dijual sekitar Rp70 ribu/kg.
Pelatihan cara memanen kopi dan pengolahan pasca panen mulai didapat saat ada “festival” kopi di Desa Labuhan Kenanga tahun 2015, yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Bima, bertepatan pula dengan peringatan 200 tahun letusan Gunung Tambora.
Pada program tersebut, datang beberapa barista dari aneka macam tempat, terutama Bandung dan Jakarta. Para barista mendapati rasa unik kopi robusta Tambora yang serasa ada rempah-rempahnya.
Celakanya, saat ditanya berapa stok yang dimiliki, para petani angkat tangan, sebab memang jarang yang punya stok lebih sesudah panen. Para barista rupanya bersimpati kepada para petani, hingga lalu menawarkan kursus singkat cara untuk mengolah kopi dengan benar.
BUMDes pun memainkan peranan penting untuk mengalahkan tengkulak. BUMDes senantiasa bersedia membeli kopi warga dengan harga yang lebih tinggi dari harga yang ditawar tengkulak. Keadaan ini membuat laba bagi para petani alasannya adalah harga kopi mereka dinilai lebih tinggi.
Bagi BUMDes sendiri juga mengalami laba dengan adanya stok kopi sampai 2,8 juta ton. Hal ini membuat BUMDes punya daya tawar untuk membidik pasar. Saat ini, para petani tak perlu lagi meminjam ke tengkulak, dan kebahagiaan menguak karena mereka sekarang terbebas dari jeratan riba itu.
Tidak hanya itu, sekarang petani telah memiliki stok kopi dengan mutu yang terjaga, sebagian petani kopi hidupnya telah tertata dan lebih layak karena telah terlepas dari jeratan rentenir yang mencekik leher mereka dengan riba. Tibalah ketika untuk mengembangkan sayap dengan lebih yakin diri. Berbagai pameran kopi sedang dijajaki.
Akhir bulan Oktober ini, rencananya Desa Oi Bura akan mengikuti ekspo kopi di Denpasar, untuk lebih memperkenalkan Kopi Robusta Oi Bura Tambora ke dunia.
Meskipun sebagian besar masyarakatnya petani kopi, penggunaan Dana Desa Oi Bura juga untuk mendanai pengadaan benih jagung kebutuhan persiapan demam isu tanam jagung, dikembangkan pula penggemukan ternak sapi, pengerasan jalan tani, pengadaan mesin molen untuk disewakan, perbaikan sarana ibadah, ekspansi tanah makam, pembangunan sarana air higienis, pembangunan gedung balai desa, dan banyak lagi acara lain termasuk akan membangun jalan aspal melintasi desa.
Karena semua penggunaannya sudah melalui musyarawah mufakat, maka semua acara pun berjalan dengan mulus.
Jeratan riba menyadarkan penduduk Oi Bura untuk berfikir keras dan melakukan sesuatu yang produktif, terkonsep dan berkesinambungan demi kesejahteraan bersama, Dana Desa membantu penduduk disana dalam mengembangkan kesejahteraan desa.
Peran serta penduduk dalam pembangunan Desa Oi Bura menjadi kunci sukses penggunaan Dana Desa. Masyarakat yang berkomitmen sarat untuk terbebas dari riba menjadi energi aktivis wangsit dan kreativitas dalam perencanaan pembangunan desa.
0 Response to "Desa Oi Bura, Dana Desa, Pembebas Jeratan Riba"
Post a Comment