Kalangan Tani Lewowerang Kembangkan Perjuangan Simpan Pinjam Tenaga Kerja Untuk Bangun Metode Ekonomi Berlandaskan Kerjasama Dan Solidaritas Antarwarga
Kelompok Tani Lewowerang (KTL) lahir sebagai campur tangan Tuhan untuk memperbaiki bumi Adonara. Bagi Petani dan warga Kampung (Lewo) Honihama, Desa Tuwagoetobi, Kecamatan Witihama, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur itu, uang cuma sebagai alat tukar sementara dan bukan menjadi keperluan utama.
Siapa sangka, langkah Kamilus Tupen dan kawan-kawan mendapat penghargaan Kusala Swadaya. Kusala Swadaya merupakan penghargaan bergengsi di bidang kewirausahaan sosial yang diadakan Yayasan Bina Swadaya di Jakarta. Nama Kamilus dan Kelompok Tani Lewowerang menjadi buah bibir pelaku wirausaha sosial di Indonesia.
| Nama Inovasi | Badan Usaha Rakyat Kelompok Tani Lewowerang |
| Pengelola | Kelompok Tani Lewowerang |
| Alamat | Desa Tuwagoetobi, Kecamatan Witihama, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur |
| Kontak | Kamilus Tupen (Ketua KTL) |
| Telepon | +62-821-4434-4103 |
Kelompok Tani Lewowerang memang beranggotakan para petani biasa, namun golongan ini mampu menunjukkan akad yang kuat untuk menunjukkan solusi atas masalah kemiskinan dan kesenjangan sosial yang dihadapi penduduk kampung.
Kelompok Tani Lewowerang mampu mengoreksi metode ekonomi modern yang melahirkan banyak penderitaan dalam penduduk . Dengan itu dia sekaligus menunjukan bahwa metode ekonomi alternatif itu mungkin. Salah satu prestasi Kelompok Tani Lewowerang yakni ia berhasil membuat banyak warga di wilayahnya berhenti menjadi TKI.
Desa Tuwagoetobi, Kecamatan Witihama, Flores Timur memang daerah penyumbang buruh migran asal Nusa Tenggara Timur. Selain petani, Kamilus Tupen juga pernah mengadu nasib sebagai buruh migran di Malaysia. Sebagaimana para TKI/TKW lainnya, Kamilus Tupen berangkat ke Malaysia tanpa pernah menikmati layanan pendidikan bagi kandidat TKI.
Pengalamannya selaku buruh bergairah di Malaysia menyadarkannya untuk balik ke kampung halaman pada 2001. Bahkan, lewat Kelompok Tani Lewowerang, ia berhasil mengajak sebagian warga yang lain untuk tidak tergiur atas bujuk rayu para calo TKI/TKW yang rajin menebar mimpi keliling ke kampung-kampung.
Selain selaku organisasi tani, Kelompok Tani Lewowerang ialah tubuh perjuangan yang dimiliki secara kolektif oleh penduduk kampung. Sebagai tubuh perjuangan rakyat, Kelompok Tani Lewowerang menerapkan metode ekonomi yang dilandasi nilai-nilai koordinasi dan solidaritas antar warga.
Apa yang dilaksanakan Kelompok Tani Lewowerang?
Kamilus Tupen bersama kaum muda di kampungnya membangun perjuangan bareng yang dimiliki bersama dengan tujuan untuk kesejahteraan bareng . Ia juga berhasil menyebarkan tata cara ekonomi berbasis koordinasi dan solidaritas, dengan bertolak dari tradisi gemohing (bahu-membahu) yang berlaku di kampungnya.
Berangkat dari kearifan lokal itulah beliau mengatasi berbagai problem yang dihadapi para petani di kampungnya.
Pada Maret 2010, Kamilus dan 30 cowok mendirikan tubuh perjuangan rakyat dan tata cara ekonomi solidaritas. Setiap orang menghimpun Rp 100 ribu sebagai tabungan pokok. Dalam waktu dua ahad, ada 70 orang yang mendaftar untuk bergabung dan terkumpulah tujuh juta rupiah sebagai modal. Sejak saat itu, Badan Usaha Rakyat dengan nama Kelompok Tani Lewowerang resmi menjalankan perjuangan simpan pinjam tenaga kerja.
Usaha simpan pinjam tenaga kerja dijalankan dengan menggabungkan antara tradisi gemohing (kerja saling membantu/bantu-membantu) dan koperasi kredit. Para anggota Kelompok Tani Lewowerang membayar simpanan pokok sebesar Rp 100.000 dan simpanan wajib sebesar Rp 10.000 per bulan. Simpanan pokok dan tabungan wajib ini mampu dibayar dengan uang tunai atau dengan tenaga kerja.
Warga yang menjadi anggota mampu meminjam dana dari Kelompok Tani Lewowerang untuk memenuhi kebutuhannya, contohnya untuk mengolah lahan, membangun rumah, mengurus kebun, dan aneka macam bentuk acara ekonomi yang memerlukan dana dan tenaga kerja. Dana yang dipinjam anggota akan dikembalikan dalam waktu empat bulan dengan bunga sebesar 2 (dua) prosen.
Bedanya dengan koperasi kredit, santunan anggota pada Kelompok Tani Lewowerang tidak diberikan dalam bentuk uang tunai, melainkan dalam bentuk voucher. Sekadar teladan, seorang anggota kalangan meminjam dana untuk membangun rumah. Kelompok Tani Lewowerang menawarkan voucher pada anggota tersebut senilai jumlah dana yang diperlukan untuk membangun rumah.
Anggota yang meminjam dana untuk membangun rumah tersebut berperan selaku “majikan”, yang mau mengeluarkan uang para buruh yang melakukan kerja gemohing membangun rumahnya. Para buruh yang dipekerjakan ini ialah sesama anggota Kelompok Tani Lewowerang.
Para buruh ini dibayar oleh majikan tidak dengan uang tunai melainkan dengan voucher yang diterimanya dari Kelompok Tani Lewowerang. Para buruh berikutnya akan menukarkan voucher tersebut dengan uang tunai pada Kelompok Tani Lewowerang. Penukaran voucher dikerjakan pada ketika pertemuan golongan yang diadakan pada saban hari minggu.
Anggota yang meminjam dana dari Kelompok Tani Lewowerang mampu mengembalikan pinjamannya dalam bentuk duit tunai atau bisa juga dengan tenaga kerja. Ini bermakna, semua anggota Kelompok Tani Lewowerang mampu berperan sebagai majikan dan sekaligus buruh.
Di satu aktivitas (membangun rumah misalnya), seorang anggota Kelompok Tani Lewowerang mampu berperan selaku majikan yang membayar buruh dengan voucher, dan di aktivitas lain (mengolah lahan, misalnya) anggota yang serupa mampu berperan selaku buruh yang mendapatkan voucher.
Voucher yang diterima ketika anggota tersebut menjadi buruh bisa digunakan untuk mengeluarkan uang derma. Para anggota Kelompok Tani Lewowerang yang berperan selaku buruh dan melaksanakan kerja gemohing dihargai atau dibayar sebesar Rp 5.000 per jam untuk pekerja umumdan Rp 6.000 per jam untuk pekerja trampil.
Sesuai janji, para pekerja wanita dihargai Rp 4.000 per jam. Sebab dalam kerja gemohing, wanita melakukan kerja-kerja yang dinilai lebih ringan dari kerja-kerja yang dilaksanakan para lelaki. Dalam hal ini Kelompok Tani Lewowerang menerapkan metode upah imbang kerja, di mana pekerjaan yang sama menerima upah yang serupa.
Selain menawarkan layanan simpan pinjam tenaga kerja, Kelompok Tani Lewowerang juga menunjukkan beberapa layanan lain, di antaranya:
Pertama, penyertaan modal usaha. Kelompok Tani Lewowerang tidak memperlihatkan sumbangan untuk investasi. Apabila ada anggota yang membuka perjuangan dan membutuhkan suplemen modal, Kelompok Tani Lewowerang menunjukkan dukungan dalam bentuk modal penyertaan dan asistensi administrasi biar usaha anggota ini lebih memiliki peluang untuk sukses. Dengan metode modal penyertaan ini, maka usaha seorang anggota menjadi perjuangan kolektif.
Kedua, pembelian komoditi anggota. Anggota Kelompok Tani Lewowerang kini tidak memiliki kesusahan untuk menjual hasil produksinya dengan harga patut. Mereka bisa menjualnya pribadi pada Kelompok Tani Lewowerang, dengan harga lebih tinggi dari harga yang ditawarkan tengkulak.
Keuntungan dari penjualan komoditi anggota oleh Kelompok Tani Lewowerang ini dibagi dua, 75 prosen untuk pemilik komoditi dan 25 prosen untuk Kelompok Tani Lewowerang. Dengan cara ini anggota Kelompok Tani Lewowerang mendapatkan laba ganda. Selain menemukan harga lebih tinggi, mereka juga mendapatkan pembagian laba dari selisih harga beli dan harga jual.
Ketiga, kios koperasi. Apabila ada anggota Kelompok Tani Lewowerang yang kesusahan duit untuk membeli barang-barang kebutuhan, anggota tersebut mampu membuka pertolongan di koperasi dan mengambil barang di kios Kelompok Tani Lewowerang.
Keempat, tabungan pendidikan. Kelompok Tani Lewowerang memfasilitasi anggota untuk menyiapkan biaya bagi pendidikan anak dengan cara menyisihkan sebagian hasil kerjanya untuk ditabung di Kelompok Tani Lewowerang.
Kini Kelompok Tani Lewowerang yang dibidani dan dipimpin Kamilus telah beranggotakan 325 orang dan jumlah tabungan anggota tak kurang dari Rp 197 juta. Jumlah simpanan KTL yang baru tiga tahun beroperasi ini bisa jadi terbilang kecil kalau dibandingkan simpanan koperasi kredit di kampungnya.
Bedanya, manfaat dan efektivitas metode Kelompok Tani Lewowerang dinikmati secara luas oleh masyarakat kampung. Bahkan warga dari kampung-kampung lain tergerak mengikuti jejak Kelompok Tani Lewowerang sesudah mereka menyaksikan keluasan manfaat dan efektivitas tata cara mereka.
Mereka lalu membentuk kalangan dan menerapkan tata cara yang sama seperti Kelompok Tani Lewowerang. Setidaknya telah ada 8 (delapan) kampung yang telah membentuk tubuh usaha rakyat dan menerapkan metode ekonomi solidaritas sebagaimana yang dilaksanakan Kelompok Tani Lewowerang. Kamilus juga menolong proses pendirian badan usaha rakyat dan penerapan sistem ekonomi solidaritas di delapan kampung tersebut.
Sri Palupi, Dewan Pengarah Pokja Masyarakat Sipil Kementerian Desa PDTT
Originally posted 2018-05-12 19:28:58.
0 Response to "Kalangan Tani Lewowerang Kembangkan Perjuangan Simpan Pinjam Tenaga Kerja Untuk Bangun Metode Ekonomi Berlandaskan Kerjasama Dan Solidaritas Antarwarga"
Post a Comment