Pameran Nelayan, Desa Rappoa Membangun Citra Wisata Melalui Balap Bahtera
Seminggu menjelang Ramadhan, Desa Rappoa, Kecamatan Pa’jukukang, Kabupaten Bantaeng sarat sesak oleh insan. Warga desa-desa di sekitar Rappoa, seperti Gallea, Makkaninong, Lumpangang, Lasepang, Pasorongi, dan Biring Kassi memadati pesisir Desa Rappoa. Bahkan, tidak sedikit pengunjung yang tiba dari jauh, seperti tangnga-tangnga dan tompong untuk menyaksikan balap bahtera yang digelar setahun sekali dalam Festival Nelayan.
Pada 2017 kemudian, Festival Nelayan berlangsung selama dua hari, 20-21 Mei 2017, di Dusun Tonrokassi yang memiliki bibir pantai yang indah. Awalnya, Festival Nelayan sekadar menjadi ajang berkumpulnya para warga Desa Rappoa. Kini, acara ini menjadi destinasi kunjungan wisata di Kabupaten Bantaeng. Mereka tiba ke Rappoa untuk berlibur dan menikmati kuliner setempat.
| Nama Inovasi | Festival Nelayan |
| Pengelola | Pemerintah Rappoa |
| Lokasi/alamat | Desa Rappoa, Kecamatan Pa’jukukang, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan |
| Kontak Person | Irfan Darfin (Kepala Desa Rappoa) |
| Telepon | +62-821-9091-8444 |
Balap bahtera mengandalkan kesanggupan dan kecepatan akseptor. Sebagai desa pesisir, Desa Rappoa harus memupuk keahlian warganya di lautan. Selain itu, Desa Rappoa mempunyai perhatian untuk mempekerjakan sumberdaya pesisir, seperti ikan, masakan, rumput laut, dan aneka kerajinan tangan.
Rappoa berhasrat terus menyebarkan peluangdesa secara mampu berdiri diatas kaki sendiri selaku bagian dari taktik Desa Membangun Indonesia. Dana Desa (DD) menjadi salah satunya pos budget untuk mengadakan balap perahu itu.
Berjarak 4 km dari ibukota kecamatan maupun ibukota Kabupaten Bantaeng, Desa Rappoa mempunyai luas kawasan 3,4 km 2 dengan jumlah penduduk 1.646 jiwa. Wilayah desa terbagi dalam lima dusun yakni Dusun Rappoa, Dusun Tonrokassi, Dusun Sapa-Sapa, Dusun Kampong Toa, dan Dusun Boddong yang semuanya berada dalam kawasan Kecamatan Pa’jukukang, Kabupaten Bantaeng.
Desa Rappoa merupakan desa hasil pemekaran kawasan Desa Biangkeke yang dijalankan pada 1997. Wilayah desa ini terdiri atas sawah, pantai, perbukitan dan permukiman penduduk. Penduduk Desa Rappoa sebagian besar melakukan pekerjaan selaku petani dan nelayan.
Rappoa termasuk desa yang menerima Dana Desa yang bersumber dari APBN sebesar Rp 792,37 juta dan Alokasi Dana Desa yang bersumber dari APBD Rp 493,25 juta. Brrbeda dengan desa-desa yang lain, Desa Rappoa mengalokasikan belanja pemberdayaan masyarakat lebih tinggi daripada belanja pembangunan.

Pemanfaatan Dana Desa untuk perbaikan irigasi, pembangunan jalan, pengadaan kendaraan beroda empat sampah, pengadaan bibit sapi, serta pengembangan seni dan budaya lokal mirip balap bahtera tadi menjadi prioritas alokasi penggunaan Dana Desa pada Desa Rappoa. Kegiatan perbaikan irigasi sepanjang 319 meter dilakukan guna membantu warga Rappoa utamanya yang berprofesi sebagai petani.
Kegiatan pembangunan jalan pada salah satu dusun juga dijalankan untuk memudahkan susukan dari dan ke lokasi tersebut. Mobil sampah dibeli selaku bab dari kegiatan penyelenggaraan penawaran khusus kesehatan dan gerakan hidup bersih dan sehat. Bibit sapi sebagai bab dari pengembangan perjuangan BUMDes Rappoa.
Kunci kesuksesan pembangunan pada Desa Rappoa ini adalah pengelolaan dan pemanfaatan Dana Desa yang dikerjakan dengan sangat baik dan transparan. Transparansi diperlihatkan dengan adanya acara “Masyarakat Berhak Tahu”, adalah pengumuman berisi jumlah dan planning penggunaan budget desa yang dipasang pada kantor desa dan titik-titik penting di desa.
Transparansi pemerintahan desa yang dipraktekkan sedikit banyak sungguh menolong dalam terciptanya situasi rukun dan tenang pada penduduk desa. Hal ini sesuai dengan data statistik Kabupaten Bantaeng, Desa Rappoa tercatat termasuk salah satu desa dengan tingkat laporan kejahatan nihil.
Penerapan transparansi di Desa Rappoa ini mendapat derma dan apresiasi dari berbagai pihak, forum pemerintah, swasta maupun akademisi. Telah banyak pihak yang datang ke Desa Rappoa untuk belajar tata pemerintahan desa yang transparan dan akuntabel.
Selain penerapan transparansi anggaran yang dimulai semenjak perencanaan anggaran, musyawarah yang digelar secara berkala menjadi salah satu sarana untuk menggali isu serta pandangan baru-pandangan baru yang dibutuhkan dalam pelaksanaan budget sehingga karenanya sesuai dengan yang diharapkan warga masyarakat.
Program “Masyarakat Berhak Tahu” menjadi slogan yang sangat kuat dalam kisah sukses penggunaan Dana Desa di Desa Rappoa. Transparansi menjadi kunci sukses pengelolaan Dana Desa. Penggunaan Dana Desa dengan menekankan pada prinsip transparansi di desa ini, mampu menjadi teladan desa rekreasi lain yang tersebar di Indonesia yang indah ini.
Sumber: KPPN Bantaeng
0 Response to "Pameran Nelayan, Desa Rappoa Membangun Citra Wisata Melalui Balap Bahtera"
Post a Comment