Penemuan Desa Kedaburapat Berhasil Kembangkan Kopi Liberika Meranti Bermutu Ekspor
Desa Kedaburapat berhasil mengembangkan kopi liberika selaku produk unggulan desa. Meski dimulai dengan belajar sendiri, berkat keuletan dan inovasi yang dilaksanakan, mereka mampu mendapat hak paten Indikasi Geografis (IG) untuk Kopi Liberika Meranti. Kopi dari Desa Kedaburapat dikenal memiliki kualitas terbaik sehingga berhasil merajai pasar Malaysia dan Singapura. Tak heran, penduduk Desa Kedaburapat menimbulkan kopi liberika sebagai komoditas andalannya.
Desa Kedaburapat terletak di Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Meranti, Riau. Menurut sejarah, kopi Liberika yakni kopi yang berasal dari daerah Liberia, Afrika Barat. Tumbuhan ini dibawa Belanda ke Indonesia pada abad ke-19 dan dikembangkan untuk mengambil alih tanaman Arabika yang terjangkit wabah penyakit.
| Nama Inovasi | Kopi Liberika Meranti |
| Pengelola | Lembaga Masyarakat Peduli Kopi Liberika Rangsang Meranti |
| Alamat | Desa Kedaburapat, Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Meranti, Riau |
Pada 1980, warga Desa Kedaburapat berguru menanam kopi di lahan gambut secara otodidak. Saat ini, perkebunan kopi yang ada di Desa Kedaburapat meraih luasan 775 hektar. Sementara itu, luasan perkebunan kopi di Kecamatan Rangsang Pesisir meraih 100 ribu hektar. Sebagian besar lokasi perkebunan kopi di Pulau Rangsang terletak tak jauh dari tepian pantai sehingga jarak ketinggian tanah hanya satu sampai tiga meter dari permukaan maritim.
Proses penanamannya cukup unik. Sebelum menanam, tanah gambut dipadatkan apalagi dulu selama 3-4 tahun guna mempertahankan mutu kopi. Untuk menetralkan keasaman, tanah juga diberikan kapur pertanian atau dolomit terlebih dulu.
Awalnya, masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti, mengenal kopi Liberika dengan istilah Kopi Sempian. Kopi Sempian mempunyai rasa perpaduan antara Robusta dengan Arabika. Saat ini populasi kopi liberika di Kabupaten Meranti telah meraih angka 254.000 batang pohon sehingga tempat ini menjadi induk pengembangan Kopi Liberika di seluruh Indonesia.
Kopi ini juga kondusif untuk lambung alasannya mempunyai tingkat kafein rendah, yaitu hanya 0,9-1 persen. Karena berkembang di lahan gambut, kopi liberika mempunyai rasa yang unik. Berdasarkan hasil tes dari sejumlah badan observasi, kopi Liberika Meranti mempunyai aroma dan ciri khas tersendiri, yaitu mempunyai aroma coklat dan rasa buah nangka.
Di Desa Kedaburapat, kopi Liberika dikembangkan sebagai tanaman tumpang sari yang tumbuh bersama dengan pohon yang lain, khususnya pohon pinang dan pohon kelapa. Karena itu, petani kopi tak sekadar panen kopi, tapi mereka juga mampu menikmati hasil panen buah kelapa dan buah pinang. Satu pohon kopi mampu menciptakan 12 kilogram hingga 20 kilogram biji kopi.
Kopi Liberika Meranti telah mendapat paten Indikasi Geografis (IG) yang dikeluarkan oleh Dirjen Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM dengan nomor IG 00.2014.000014. Indikasi Geografis ini adalah sebuah tanda yang menunjukkan kawasan asal suatu barang dan atau produk yang dihasilkan.
Sebelumnya, para petani harus mengeluarkan biaya tinggi untuk mengirimkan hasil panen keluar desa. Saat ini, para petani kopi sungguh terbantu dengan dukungan pembangunan infrastruktur jalan desa lewat Dana Desa (DD). Berkat bantuan itu, para petani lebih mudah menjinjing hasil panen ke luar kawasan.
0 Response to "Penemuan Desa Kedaburapat Berhasil Kembangkan Kopi Liberika Meranti Bermutu Ekspor"
Post a Comment