Sudiyanto Dan Pompa Air Tanpa Listrik

Sudiyanto, 45 tahun, warga Desa Kotayasa Sumbang Banyumas yang menemukan pompa hydram, pompa air tenaga air. Pompa ini bisa mengalirkan dari dataran rendah ke dataran yang lebih tinggi hingga ratusan meter tanpa menggunakan listrik. (Aris Andrianto/Purwokertokita.com)
Sudiyanto, 45 tahun, warga Desa Kotayasa Sumbang Banyumas yang mendapatkan pompa hydram, pompa air tenaga air. Pompa ini bisa mengalirkan dari dataran rendah ke dataran yang lebih tinggi hingga ratusan meter tanpa memakai listrik. (Aris Andrianto/Purwokertokita.com)

Purwokertokita.com – Ada banyak insan mahir dari Banyumas. Mereka inovatif dan menginspirasi. Bahwa pada kesannya mereka meraih kesuksesan, tidak pernah lepas dari proses yang menyakitkan. Gagal berulang-ulang. Dicemooh, ada yang cerewet dan dianggap gila.


Berikut adalah kisah ihwal Sudiyanto. Sang penemu pompa air tanpa listrik. Ia yaitu satu dari sekian cerita berhasil yang Purwokertokita.com suguhkan untuk anda pembaca setia.


Hujan turun dengan derasnya. Di sebuah desa paling atas di lereng Gunung Slamet itu, air mirip tumpah dari langit. Deras mengalir hingga jauh. Meluncur hingga belum dewasa sungai yang terjalin sampai muaranya yang terakhir, Samudera Indonesia. “Air di sini hanya numpang melalui, tak mampu dimanfaatkan oleh warga sini,” ujar Sudiyanto, 45 tahun, warga Grumbul Glempang, Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang, Banyumas.


Rumahnya berada di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Meski berada di pegunungan, dan air cukup melimpah, dia dan ribuan penduduk lainnya tak mampu mempergunakan air itu.


Meski telah digali hingga belasan meter, air sumur tak mampu keluar di tempat itu. Setiap menggali sumur, dia selalu mendapati bebatuan besar sisa vulkanik menghalangi cangkulnya. Alhasil, tak ada sumur di desa itu.


Penduduk pun terpaksa pergi ke sumber mata air yang banyak terdapat di desa itu. Hanya saja letaknya cukup jauh dan berada di bawah desa. Prihatin dengan keadaan itu, Sudiyanto pun berpikir keras biar mampu mengalirkan air di sungai yang ada di kawasan yang lebih rendah ke desanya. “Inspirasi itu muncul pada sebuah sore di final Mei 1998,” kata ia membuka kembali memori periode lalunya.


Sambil ngemil kacang goreng yang tersisa setengah toples itu, Sudiyanto menceritakan kisahnya wacana upaya membuat pompa air tenaga air atau yang dikenal dengan hydram. Inspirasinya beliau dapatkan dari buku koleksi perpustakaan desa, tak sengaja ia memperoleh suatu buku berjudul, Pompa Air Tenaga Air.


Pompa air dalam buku tersebut mengadopsi teknologi Belanda. Yanto, begitu Sudiyanto umumdisapa, tergerak untuk membuat pompa air yang ada di buku tersebut.


Dalam buku tersebut, air yang dipompa cuma mampu naik setinggi 7 meter. Padahal jarak antara sumber mata air dengan perkampungan penduduk di kawasan tersebut lebih dari seratusan meter. Namun Yanto tak menyerah. Dengan modal seadanya, dia tetap melanjutkan proyek tersebut.


Untuk menangani kelemahan modal, dia meminjam uang Rp 5 juta dari saudara-saudaranya. Uang tersebut diperolehnya dari Narkum sebesar Rp 2,5 juta, hasil dari memasarkan Padi. Sedangkan sisanya diperoleh dari kakaknya lainnya, Warno, dari hasil menjual cengkeh.


Dari uang tersebut, ia pakai untuk membeli pipa dan perlengkapan lainnya. Awal percobaannya, pribadi gagal. Air tak bisa naik. Namun, beliau tak frustasi.


Dicobanya lagi alat tersebut, kali ini berhasil. Air bisa naik sampai ketinggian 18 meter. Total percobaanya sampai ketinggian 18 meter, dia gagal sebanyak 10 kali.


Setelah gagal 10 kali, tepatnya bulan September 1999, suatu ketidaksengajaan percobaan membuahkan hasil. Hydram buatannya tak sengaja bocor. “Sebenarnya itu suatu kecelakaan,” kata Yanto.


Namun dari bocornya Hydram tersebut, air yang mengalir justru makin besar. Lantas ia pun membuat penyesuaian lagi. Hydram beliau sengaja bocorkan dengan membuat lubang dari sebuah paku.


Sadar air yang mengalir makin deras, ia pun menciptakan sambungan air dengan pipa hingga depan rumahnya. Jarak antara sumber air dengan rumahnya sendiri sekitar 315 meter. “Saya pribadi berteriak mirip orang asing, ternyata percobaan aku tak sia-sia,” kata dia sambil terus membuka kulit kacang.


Akhirnya, setelah dua tahun dia melakukan percobaan tersebut, usahanya sukses. Awalnya, ia cuma menggunakan air tersebut untuk keluarganya. Setelah itu, tetangganya yang dahulu mencemoohnya ikut menikmati air tersebut.


Bahkan, dia membangun sebuah bak penampungan yang bisa digunakan warga untuk menemukan air. Bak tersebut sangat berguna bagi warga ketika kemarau tiba.


Sudiyanto, 45 tahun, warga Desa Kotayasa Sumbang Banyumas yang menemukan pompa hydram, pompa air tenaga air. Pompa ini bisa mengalirkan dari dataran rendah ke dataran yang lebih tinggi hingga ratusan meter tanpa menggunakan listrik. (Aris Andrianto/Purwokertokita.com)
Sudiyanto, 45 tahun, warga Desa Kotayasa Sumbang Banyumas yang menemukan pompa hydram, pompa air tenaga air. Pompa ini bisa mengalirkan dari dataran rendah ke dataran yang lebih tinggi sampai ratusan meter tanpa memakai listrik. (Aris Andrianto/Purwokertokita.com)

Selain itu, setiap mengambil air di sumber air, mereka mesti ngantri selama satu jam. Padahal, di desa tersebut hanya ada 3 mata air yang dipakai oleh ratusan warga.


Niatan Yanto untuk mengatasi kesulitan air bukannya tanpa cobaan. Banyak cemoohan yang dia mampu. Terutama dari tetangganya. “Mereka menyebut saya aneh,” ungkapnya.


Bahkan ada yang mau meminum air kencing Yanto, bila percobaan itu sukses. Selain cemoohan tetangga, beliau juga dihadapkan pada dongeng mistik yang beredar di golongan tetangga. Sebabnya, warga lokal meyakini jika air sumber yang dipakai Yanto mempunyai tuah buruk.


Barangsiapa meminum air dari sumber yang dinamakan Tuk Begu, maka orang tersebut mampu kehilangan suaranya dan tak mampu mengatakan. Begu dalam bahasa Indonesia bermakna, tak mampu berbicara.


Yanto tak patah arang. Dengan pinjaman tetua adab setempat yang bernama Sandireja, warga pun yakin jikalau air sumber tersebut boleh dipakai. “Saya mesti berpura-pura bertapa dengan Sandirejo di daerah tersebut supaya warga yakin,” ujarnya.


Selain bertapa. Yanto juga berbelanja suatu cincin yang dibuang di kawasan tersebut. Hal itu beliau lakukan agar warga sungguh-sungguh yakin bila air tersebut bisa disantap.


Selang beberapa tahun, tepatnya tahun 2005, air sumber yang sekarang dinamakan tuk Sladan, dibeli oleh Yanto. Yanto membelinya dari Partinah pemilik tanah tersebut. Uang untuk membeli tanah Partinah berasal dari kado kompetsi IDM yang diikutinya sebesar Rp 200 juta.


Saat ini ia memimpin sebuah paguyuban di desanya yang diberi nama, Paguyuban Masyarakat Pendamba Air Bersih. Anggotanya telah mencapai 900 orang. Setiap bulannya, setiap anggota ditarik iuran Rp 2.500 untuk biaya pemeliharaan Hydram. Tentu jauh dari tarif berlangganan PDAM.


Originally posted 2016-02-02 14:22:12.

0 Response to "Sudiyanto Dan Pompa Air Tanpa Listrik"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel