Bum Desa Tunggul Wulung Buatan Air Minum Bungkus Dari Air Payau
Sulitnya Akses Air Bersih
Kawasan daerah pesisir utara Kabupaten Lamongan ialah perkampungan nelayan yang padat penduduk. Jarak antara rumah satu dengan rumah yang lainnya sangat berdekatan. Kendala utama di kawasan pesisir utara yakni ketidaktersedianya air untuk keperluan minum dan masak. Rata-rata sumur warga airnya keruh, agak asin (payau), dan berwarna.
Seperti halnya perkampungan nelayan lainnya, Desa Tunggul juga terkendala dengan ketersediaannya air untuk kebutuhan minum dan masak. Untuk menyanggupi keperluan air minum, mereka harus membeli air minum dalam kemasan merek pabrikan yang harganya relatif mahal.
Pemerintah Desa Tunggul telah menempuh bermacam-macam cara untuk mencari pertolongan, baik dari pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pemerintah pusat.
| Nama Inovasi | Produksi Air Minum Kemasan dari Air Payau |
| Pengelola | BUM Desa Tunggul Wulung |
| Alamat | Desa Tunggul, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur |
| Penanggung jawab | M. Yasin |
| Telepon | +62-857-8505-3365 |
Pengolahan Air Minum Kemasan dari Air Payau
Pada 2011, Pemerintah Desa Tunggul mendapatkan dukungan dari Kementrian Perikanan dan Kelautan berupa seperangkat perlengkapan yang bisa mengganti air maritim menjadi air tawar siap minum. Pucuk disayang ulam datang, upaya untuk mengatasi kekurangan air higienis mulai menemui titik terperinci. Pemerintah Desa Tunggul mempergunakan peralatan tersebut untuk buatan air minum bungkus dari air payau, utamanya kemasan galon isi 19 liter. Pengelolaan bisnis diserahkan kepada kelompok rukun nelayan.

Pada permulaan produksi, air baku yang dipakai yakni air maritim. Karena kandungan zat-zat mineral yang terkandung dalam air maritim tinggi, berakibat pada sering rusak pada membrannya. Membran ini berfungsi untuk memisahkan mineral-mineral yang terkandung dalam air maritim sehingga menjadi tawar. Suku cadang membran ini masih langka dan harganya sangat tidak murah. Pemerintah Desa Tunggul mesti mendatangkan dari Jakarta. Akibat sering mengalami kerusakan pada membrannya, maka selama empat tahun (2011 – 2014) berproduksi, pemasukan dari hasil penjualan air minum hanya bisa menutup biaya operasional saja (impas).

Unit Usaha Bum Desa Tunggul Wulung
Untuk pengembangan bisnis, Pemerintah Desa Tunggul melakukan studi banding pada perusahaan air mineral dan koordinasi dengan bengkel-bengkel besar. Pada permulaan 2015, mereka memperoleh jalan keluar atas permasalahan yang dihadapi selama empat tahun. Mereka melaksanakan sedikit inovasi dengan mengganti membran dan materi baku tidak lagi menggunakan air bahari tetapi dari air payau. Langkah itu menciptakan mesin mampu memproduksi air minum dengan kapasitas 250 galon per hari. Namun, karena keterbatasan tenaga kerja dan armada pengangkut, jumlah buatan perhari rata-rata 50 galon.
Sejak memakai membran yang gres, kadar mineral dalam air rata-rata 50-60 TDS. Biaya operasional juga dapat dihemat sampai 60 prosen. Pada 30 November 2015, bisnis produksi air minum dalam bungkus itu secara resmi menjadi unit perjuangan BUM Desa Tunggul Wulung, Desa Tunggul.
Pada 2017, BUM Desa “Tunggul Wulung” tengah membangun gudang untuk kawasan buatan air minum dalam kemasan. Pada 2018, mereka berniat untuk memproduksi air minum dalam bungkus gelas dan botol. Omset penjualan sampai Agustus 2017 rata-rata Rp 6.000.000 sampai Rp 7.000.000 per bulan, sedang keuntungan higienis rata-rata Rp 2.500.000 sampai Rp 3.000.000. (Agus Wahid Suyoto).
Selain mengolah air minum bungkus dari air payau, bumdesa juga mengolah kopi mangrove.
Originally posted 2017-10-03 05:45:55.
0 Response to "Bum Desa Tunggul Wulung Buatan Air Minum Bungkus Dari Air Payau"
Post a Comment