Desa Lae Langge Namuseng Minimalisir Lahan Tidur Lewat Pergeseran Jarak Tanam Kopi Arabika Dengan Metode Tumpang Sari

Kopi merupakan salah satu komoditi yang meningkat paling pesat di Desa Lae Langge Namuseng. Para petani Desa Lae Langge Namuseng yang tergabung dalam Kelompok Tani Sumber Rejeki berinovasi melakukan pembibitan dalam polibag dan melakukan perubahan jarak tanam kopi. Praktik inovasi ini bisa meminimalisir luasan lahan tidur dengan tata cara tanam tumpang sari.



Desa Lae Langge Namuseng masuk dalam kawasan Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu, Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatra Utara. Komitmen Kabupaten Pakpak Bharat untuk mendorong kopi sebagai produk unggulan Desa Lae Langge Namuseng sudah tertuang dalam dokumen kerja Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2017.





















Nama InovasiPerubahan Jarak Tanam Kopi Arabika dengan Sistem Tumpang Sari
PengelolaKelompok Tani Sumber Rejeki Desa Lae Langge Namuseng
AlamatDesa Lae Langge Namuseng, Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu, Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatra Utara
Kontak

  1. Mental Berutu (Kepala Desa) – +62-822-7389-3905

  2. Arjuna, SP (TA P3MD-PID Kab Pakpak Bharat) – +62-821 6509-0234

  3. Rachmad Martin Berutu (Ketua TPID Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu) – +62-821-6213-8213



Bappeda Kabupaten Pak-Pak Bharat menganjurkan tanaman kopi sebagai produk unggulan yang potensial mampu mengembangkan pemasukan perkapita masyarakat di wilayah ini. Terlebih, Desa Lae Langge Namuseng berada di ketinggian 700-14.000 mdpl sehingga sangat sesuai untuk budidaya kopi, baik jenis robusta maupun arabika.


Pada 2006, PT Tunggal Menari Jaya menyebarkan perkebunan kopi arabika seluas 125 Ha di kawasan Desa Lae Langge Namuseng. Sejak itu hampir semua warga mulai membudidayakan tumbuhan kopi. Tak heran, Desa Lae Langge Namuseng diketahui sebagai penghasil kopi arabika (sigarar utang) paling besar di Kabupaten Pak-pak Bharat.


Sayang selama satu dasawarsa terakhir, budidaya kopi belum bisa mendongkrak perekonomian penduduk Desa Lae Langge Namuseng. Salah satu penyebabnya ialah kegagalan warga dalam penyeleksian jenis kandidat bibit, luas dan dalam lubang tanam, jarak tanam, serta metode perawatan dan pemeliharaan.


Bagi penduduk Desa Lae Langge Namuseng budidaya kopi ialah hal baru. Sebelumnya, mata pencaharian penduduk desa bersandar pada hasil kemenyan dan padi. Perubahan jenis komoditas itu membuat masyarakat harus berguru ulang perilaku bercocok tanam.


Melihat realita ini, satu penggagas desa, Rachmad Martin Berutu, mencoba mengangkat kembali budidaya kopi Arabika. Rachmad pernah bekerja selaku Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat di salah satu NGO, adalah Conservation International (CI). Dia berhubungan dengan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Desa Lae Langge Namuseng untuk menanggulangi inovasi dalam budidaya kopi yang lebih baik.


Pada 2017, Program Amarta USAID membuka Program Sekolah Lapang di Desa Lae Langge Namuseng. Lalu, lahirlah Kelompok Tani “Sumber Rejeki” sebagai wadah organisasi para petani desa. Kelompok Tani Sumber Rejeki mengembangkan kebun bibit desa dengan budidaya unggulan kopi jenis arabika.


Awalnya, bibit didatangkan dari Desa Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan, klasifikasi F1 lewat seleksi pohon bibit serta mengkupaskan kulit manual serta seleksi yang mana cuma biji dua saja yang diseleksi serta tidak bercacat dan bentuk standar.


Langkah berikutnya yaitu:



  1. Setiap anggota mendapatkan 300 batang bibit kopi Arabika;

  2. Setiap anggota menanam dengan tata cara tumpang sari dengan jarak tanam 1,5 m x 1,5 m x 4 m dengan metode lubang berukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm;

  3. Diwajibkan menanam di lahan yang belum pernah dibuka sebelumnya (lahan tidur) agar mengurangi jumlah lahan tidur yang ada;

  4. Menanam pohon pelindung

  5. Lubang tanam dilakukan sebelum kala 60 hari sebelum bibit ditanam.


Dengan melakukan penemuan dalam sistem seleksi bibit , metode pembibitan dalam polibag dan tata cara jarak dan lubang tanam yang membuka areal yang belum pernah dibuka (lahan tidur) diharapkan gerakan ini dapat memberi inspirasi penduduk di luar anggota Kelompok Tani Sumber Rejeki untuk mengembangkan pemasukan ekonomi rumah tangga.


Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPDI) Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu


0 Response to "Desa Lae Langge Namuseng Minimalisir Lahan Tidur Lewat Pergeseran Jarak Tanam Kopi Arabika Dengan Metode Tumpang Sari"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel