Desa Limbungan, Kembangkan Rimpi Dan Meubel Ukir Sebagai Produk Unggulan Desa
Desa Limbungan mendorong produk unggulan desa melalui pemberdayaan warga yang mempunyai usaha rumahan dan menciptakan produk olahan bernilai tambah tinggi. Ada warga yang bergerak dalam kerajinan meubel ukir berbahan baku kayu jati, ada juga memproduksi rimpi (sale pisang) dengan mengolah hasil kebun pisang.
Di Desa Limbungan, ketersediaan materi baku untuk kedua produk tersebut sangat berlimpah. Limbungan terletak di Kecamatan Hampang, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Luasnya 2 ribu-an Km2 dengan penduduk sekitar seribu jiwa.
Desa ini sebelumnya merupakan lokasi transmigrasi. Hutan dan lahan yang subur telah menunjukkan berkah berbentukhasil hutan kayu dan banyak sekali produk primer pertanian.
| Nama penemuan | : | Pengembangan produk meubel dan sale pisang (rimpi) |
| Pengelola | : | Usaha mikro |
| Lokasi/alamat | : | Desa Limbungan, Kecamatan Hampang, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan ( Kalsel ) |
| Kontak | : | Kurdi (Kepala Desa) |
| Telepon | : | 0822-5497-5141 |
Rimpi yang warnanya hitam-manis ini dibentuk dari pisang sortiran yang telah matang bau tanah. Setelah dikerok sedikit bab luarnya semoga higienis, diletakkan di atas tampah. Secara tradisional, memakai pengasapan dari kayu bakar.
Selanjutnya dijemur selama 4 5 hari dan dipress memakai bamboo atau kayu bundar. Kemudian dibungkus dan siap dipasarkan atau didistribusikan ke warung-warung.
Selain bisa menyerap banyak tenaga kerja, adanya usaha ini juga bisa menghidupkan kembali semangat mengelola kebun pisang dari para petani setempat. Kegiatan ini juga memberdayakan ibu-ibu yang tidak memiliki pekerjaan tetap sehingga bisa menolong dalam perekonomian keluarga. Kebun pisang yang dulunya tidak dirawat, kini kembali dirawat, malahan bertambah luasannya.
Sedangkan industri kerajinan meubel ukir yang dikelola Pak Kusno, antara lain menghasilkan meja dan kursirak serta rak buku dan dipan dengan banyak sekali ukuran dan model. Bentuk, ukuran serta model produk menyesuaikan pesanan dan animo pasar.
Pembuatannya melalui beberapa tahapan, mulai dari pengukuran dan pemotongan kayu sesuai kebutuhan, dilanjutkan dengan molding atau pembentukan semoga menjadi komponen dengan bentuk dan ukuran yang sebenarnya. Kemudian assembling dengan merakit unsur-unsur dari proses molding hingga menjadi produk yang diharapkan. Setelah semua proses akhir dilaksanakan, tahap terakhir yakni pewarnaan atau finishing.
Inovasi yang dikerjakan dengan mendesain dan memodifikasi meubel meja, kursi, dan lemari, yang semula cuma berbentuk meja kursi lazimsaja menjadi goresan tiga dimensi dengan motif ukir Jepara sehingga menciptakan produk yang lebih menarik.
Bila sebelumnya, pohon-pohon jati yang ditanam warga sekitar hanya ditebang begitu saja, tanpa dimanfaatkan atau hanya dipakai sebagai kayu bakar. Melalui kegiatan ini, sekarang mampu dijual terhadap Pak Kusno dan dimasak menjadi produk yang berharga dan bernilai jual tinggi. Banyak orang dari luar desa, bahkan luar kabupaten yang memesan meubel ukir Jepara karya Pak Kusno ini.
Sementara ini, meubel kayu jati masih dibuat menurut reservasi dari konsumen. Produksinya sekitar 10 unit per bulan. Ada pun rimpi, produksinya sekitar 1500 bungkus per bulan. Pemasaran masih di sekitar Kecamatan Hampang hingga tempat Batulicin bila ada yang memesan. Desa menginginkan dukungan dari Kementerian Desa semoga mampu mengembangkan skala bikinan dan penjualan kedua produk yang menjadi unggulan desa ini.
0 Response to "Desa Limbungan, Kembangkan Rimpi Dan Meubel Ukir Sebagai Produk Unggulan Desa"
Post a Comment