Mantan Buruh Migran Mandiri Dengan Sayuran Organik

Setelah pulang kerja jadi TKI mau apa?. Pertanyaan inilah yang sedang coba dijawab oleh Wakam (54), mantan buruh migran di Desa Cihonje, Gumelar, Banyumas yang saat ini menjajal mandiri dengan bertani sayuran organik.


Sebelum menetapkan untuk bertani sayuran organik, Wakam menjadi buruh migran dari tahun 1993 hingga tahun 2004, bolak-balik melakukan pekerjaan di Malaysia tempatnya mengadu nasib. Hasil yang telah ditemukan, ternyata tetap menciptakan Wakam kebingungan dikala menetapkan untuk tidak lagi berangkat ke luar negeri. Dia ingin melakukan pekerjaan di negara sendiri atau menciptakan perjuangan sendiri, namun ternyata hal ini susah direalisasikan.


“Saya bolak-balik melakukan pekerjaan di Malaysia, di pabrik pembuatan kayu, namun setelah pulang saya resah mau kerja apa?,” ungkap Wakam menceritakan pengalamannya.


Bertani sayuran organik menjadi pilihan bagi Wakam untuk menyanggupi kebutuhan hidupnya. Berawal dari training yang dia ikuti bareng LMDH di desanya, semenjak tahun 2007 Wakam menekuni pertanian sayuran organik. Bukan hanya sayuran sehat tanpa pestisida dan pupuk kimia yang kini dihasilkan, Wakam juga memproduksi pupuk organik yang ia kembangkan sendiri.


Pupuk organik yang dia hasilkan banyak dibeli oleh para petani di desanya yang sekarang memalsukan Wakam untuk menyebarkan tata cara pertanian organik. “Untuk pupuk cair aku jual dengan harga 20 ribu perliternya, pupuk kompos 30 ribu setiap karung dengan berat kira-kira 40 kg,” tuturnya.


Usaha kerasnya sekarang sudah memberinya harapan, sayuran dan pupuk organik yang beliau hasilkan sudah banyak disukai penduduk . Wakam ingin apa yang beliau lakukan juga mampu ditiru oleh orang lain, dia sangat terbuka jika ada orang lain yang ingin berguru bersama. “Kalo ada orang yang berminat umumnya akan aku ajak berguru ke tempat tinggal, agar lihat langsung alhasil,” tambahnya.


Wakam memiliki mimpi besar biar pertanian organik juga bisa dijalankan oleh sesama mantan buruh migran di desanya. Namun selama ini belum banyak yang terpesona, sebab mereka takut kesudahannya tidak ada yang menampung untuk dipasarkan.


Peluang yang menjanjikan dari pengembangan pupuk dan sayuran organik ditanggapi serius oleh Teguh Rokhani (36), pegiat buruh migran dari Kecamatan Gumelar ketika berkunjung ke tempat pengolahan pupuk organik milik Wakam.


“Belum banyak petani di kawasan Kecamatan Gumelar yang mengembangkan pertanian organik, padahal jikalau dikembangkan ini bisa menjadi produk unggulan dari Gumelar,” tutur Teguh.


Menurut Teguh, pasar sayuran organik saat ini terbuka lebar, telah banyak masyarakat yang selektif untuk memilih bahan makanan sehat bebas bahan kimia. “Pengembangan pertanian organik yang dikerjakan oleh Wakam semestinya bisa memberi inspirasi petani dan mantan buruh migran yang lain, potensi pengembangan ke depannya sangat cantik,” tegas Teguh.


Yudi Setiyadi


0 Response to "Mantan Buruh Migran Mandiri Dengan Sayuran Organik"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel