Olah KesempatanSingkong, Kampung Udapi Hilir Dirikan Pabrik Tepung Tapioka
Kampung Udapi Hilir masih banyak lahan kosong yang belum tingkatkan oleh warga. Pemerintah Kampung mendorong warga untuk membudidayakan singkong alasannya komoditas itu memiliki kesempatan pasar yang cantik. Selanjutnya, Kampung Udapi Hilir mendirikan Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam) mengatasi unit bisnis bikinan tepung tapioka. Berkat pemberian Dana Desa, Kampung Udapi Hilir dapat membangun pabrik untuk memproduksi tepung tapioka.
Kampung Udapi Hilir terletak di Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Kampung ini banyak dihuni para transmigran yang ditempatkan pada 1982. Umumnya, penduduk kampung pencaharian selaku petani, baik tumbuhan kebun maupun sayuran.
| Nama Inovasi | Pabrik Tepung Singkong |
| Pengelola | Pemerintah Kampung dan BUM Kampung Udapi Hilir |
| Nama Inovasi | Kampung Udapi Hilir, Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat |
| Kontak | Sumarno (Direktur BUM Kampung) |
| Telepon | +62-852-4421-6975 |
Kehidupan Kampung Udapi Hilir sempat mengalami pasang naik dan surut secara ekonomi. Kehidupan ekonomi warga sempat meningkat sekitar 1990-an balasan masuknya industri perkebunan sawit PTPN dan Asia Development Bank (ADB) pada 1996. Pada 2005, terjadi pelepasan aset dari PTPN pada perusahaan asing serta adanya serangan hama penggerek sehingga menimbulkan mutu ekonomi masyarakatsempat terjun bebas.
Pada 2016, Kampung Udapi Hilir mendirikan Badan Usaha Milik Kampung yang bergerak pada usaha produksi tepung tapioka. Meski pendirian pabrik masih dalam proses, para warga sudah menanam singkong di lahan-lahan yang selama ini belum tergarap secara maksimal. Masyarakat kampung berharap adanya pabrik tepung tapioka akan memberi nilai tambah pada perekonomian mereka.
Gagasan pendirian pabrik tepung singkong dimulai dari lembaga diskusi terpola yang diselenggarakan oleh Karangtaruna. Para cowok kesengsem untuk melaksanakan pemetaan kesempatanekonomi kampung. Intensitas diskusi makin meningkat ketika ada program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Manokwari. Bahkan, mereka memanggil pejabat eselon Pemerintah Kabupaten Manokwari yang membidani problem tata pemerintahan kampung.
Pada Musyawarah Kampung 2016, para perjaka menjinjing gagasan pendirian BUM Kampung selaku forum ekonomi yang menanggulangi potensi ekonomi kampung. Pengurus BUM Kampung yang gres terbentuk merancang perjuangan pabrik tepung tapioka untuk diajukan ke Pemerintah Kampung Udapi Hilir. Pada 21 Juli 2016, BUM Kampung diresmikan dengan “Bangun Asanyar”. Akhirnya, pemerintah kampung menunjukkan dukungan kebijakan dan anggaran untuk mewujudkan pabrik tepung tapioka.
Pada 2016, Pemerintah Kampung menganggarkan 240 juta rupiah. Lalu, pada 2017 santunan pemerintah kampung meraih 150 juta rupiah. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung Kabupaten Manokwari memberi hibah 3 juta rupiah. Pengurus BUM Kampung mengajukan bantuan dari dana Simpan Pinjam Perempuan (SPP) eks PNPM Mandiri sebesar 160 juta rupiah.
Pabrik tepung tapioka berskala 15 x 12 M. Konstruksi pabrik terdiri atas bagian bak penampung perasaan air singkong, ruang oven, kamar karyawan, ruang pengemasan, dan ruang pencucian. Mesin parut sudah didatangkan dari Kabupaten Kediri dengan perlindungan Dana Desa. Bahkan, para pemuda telah memodifikasi mesin parut singkong dengan memanfaatkan peralatan mesin pencetak batako yang dimiliki desa sebelumnya. Pabrik ini mampu mengolah singkong dengan kapasitas buatan meraih 2 ton perjam.
Rata-rata kapasitas produksi singkong meraih 5 Kg/pohon. Bila dalam 1 hektar jarak tanam 2×2 meter, maka lahan tersebut bisa manampung 2.200 – 2.300 pohon. Saat panen raya, satu hektar lahan mampu menghasilkan 11,2 ton. Harga pasaran singkong dijual Rp 70.000,- per karung dengan kisaran berat 65 kg.
Untuk mengembangkan bisnis, Pengurus BUMDesa juga mencari pemanis modal dari penanam modal dengan berkoordinasi dengan pihak perbankan, seperti Bank Indonesia (BI) Perwakilan Papua Barat dan Bank Nasional Indonesia (BNI). Desa mendapat akidah dari pihak lain, misalnya BNI lewat program CSR-nya yang dialokasikan untuk investasi pembangunan pabrik sebesar Rp 450.000.000,-
Pekerjaan rumah selanjutnya yaitu pengurus BUM Kampung harus bisa menjamin persediaan materi baku untuk pabrik. Kemampuan pengorganisasian dan mobilisasi dari pengelola BUMDesa akan memilih partisipasi warga untuk menanam singkong.Olah Potensi Songkong, Kampung Udapi Hilir Dirikan Pabrik Tepung Tapioka
0 Response to "Olah KesempatanSingkong, Kampung Udapi Hilir Dirikan Pabrik Tepung Tapioka"
Post a Comment