Rumah Tunggu Turunkan Angka Maut Ibu Dan Anak Di Maluku Tenggara Barat
Rumah Tunggu menangani ibu hamil riskan di pulau-pulau kecil di Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB). Layanan yang ditawarkan mencakup layanan persalinan, investigasi laboratorium, imunisasi ibu dan bayi gres lahir, investigasi ibu dan anak pasca melahirkan, serta investigasi antenatal. Inovasi layanan kesehatan ini mampu menurunkan angka maut ibu dan anak.
Rumah Tunggu yakni rumah yang disediakan oleh masyarakat bagi ibu hamil berisiko untuk menjadi tempat menanti persalinan. Fasilitas pendukungnya yakni ambulans, kemudahan serta jasa konsumsi, perlengkapan mandi, dan perlengkapan mencuci bagi satu orang penunggu.
| Nama Inovasi | Rumah Tunggu Ibu Hamil dan Melahirkan |
| Pengelola | Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara Barat |
| Alamat | Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku |
Sebelum ada rumah tunggu, dongeng persalinan di Kabupaten MTB cukup memprihatinkan. Suatu malam, waktu terasa sungguh lambat merangkak. Suara pria dari telepon genggamnya terdengar ketakutan.
”Ibu, katong mau datang segera mirip apa? Ombak sebesar ini mau menyeberang bahari! Kita juga takut mati, ibu!” cerita Suzana Pattiasina, Kepala Puskesmas yang ditelepon keluarga ibu yang akan melahirkan.
”Kondisinya bagaimana, Pak?” tanya Suzana
”Ketuban telah pecah, ibu. Bayinya seperti sudah mau keluar,” bunyi Bapak di seberang jaringan telepon berusaha hening.
Bapak yang menelpon tinggal di Desa Larat, berjarak satu jam dengan perahu dengan Puskesmas. Dengan kondisi bahari yang sedang bergelora, nyaris mustahil ibu yang sedang mempertaruhkan nyawa ini mampu secepatnya tertolong.
”Memang hebat jauh perbedaan antara proses persalinan di kota besar dengan tempat kami yang terpencil ini”, bisik Suzana dalam hati.
Cerita Suzana menjadi gambaran persalinan di Kabupaten MTB. Kabupaten yang mempunyai luas 53.521 kilometer persegi ini, 88 persen wilayahnya ialah laut. Letaknya yang berada di antara Laut Banda dan Laut Arafura menciptakan transportasi maritim bagi sekitar 105 ribu masyarakat yang hidup 57 pulau menjadi sangat bergantung pada ekspresi dominan dan perubahannya.
Akibatnya, pada ekspresi dominan-demam isu tertentu, sebagian besar masyarakat akan terisolir total atau harus membayar biaya angkutanyang begitu mahal untuk mampu bepergian. Tidak sedikit korban yang muncul balasan kapal karam atau terkatung-katung di maritim hingga ke perairan Australia dan Selandia Baru.
Kondisi geografis dan keadaan cuaca yang tidak menentu menciptakan jalan masuk untuk menyanggupi pelayanan dasar publik, termasuk pelayanan kesehatan, menjadi tantangan tersendiri.
Ibu hamil yang terhambat proses persalinan karena jarak dan waktu yang ditempuh memakai transportasi maritim mampu mempunyai dampak negatif pada nyawa ibu dan bayi. Walaupun telah ada bidan di puskesmas, namun hal itu tidak menjamin. Jarak dan waktu yang ditempuh menuju puskesmas sangat tidak memungkinkan sebab kondisi yang darurat pada ibu hamil.
Sebagai bidan yang bertugas di pulau kecil seperti Yamdena, Suzana mencicipi betul bagaimana faktor cuaca dan keterisolasian geografis mempengaruhi pelayanan kesehatan. Ia teringat pengalaman rekan kerjanya, Sarlina, saat bahtera yang ditumpanginya karam dalam perjalanan peran dari Seira ke Saumlaki.
”Sarlina sangat syok karena ketika tenggelam ia telah tidak bisa menyaksikan siapa saja yang bisa membantu. Saya sangat bersyukur sampai saat ini rekan ia masih diizinkan untuk tetap hidup,” kenang Suzana.
Kepala Puskesmas Seira, Walowahani Adriaan juga merasakan pengalaman serupa Suzana.
”Sering kali kami harus menempuh perjalanan maritim dalam cuaca jelek, atau sebaliknya pasien referensi harus mengambil resiko berlipat ganda melawan topan di bahari demi menyelamatka nyawa. Inilah masalah kami bertugas di tempat kepulauan,” ungkap Walowahani.
Tidak cuma terjadi di bahari, hambatan angkutandarat pun sama beratnya. Suzana mengenang pengalaman ketika ia dan beberapa petugas kesehatan menempuh perjalanan darat ke suatu desa yang berjarak 60 kilometer. Di tengah jalan, ban kendaraan beroda empat ambulans yang ditumpangi pecah. Perjalanan pun dilanjutkan dengan berjalan kaki melalui hutan belantara.
”Walaupun hujan turun sungguh deras, kami tetap berlangsung, sebab telah jadwal kunjungan petugas kesehatan,” tutur Suzanna sambil tersenyum.
Senyum ramah tak pernah lepas dari parasnya, walau kawasan tugasnya berjarak 120 kilometer dari Saumlaki, ibukota Kabupaten MTB di Pulau Yamdena. Saumlaki mempunyai kemudahan kesehatan lebih baik. Pasien dengan komplikasi, tergolong ibu hamil rawan harus melakukan perjalanan jauh menuju Saumlaki. Dampaknya, pada 2007 jumlah Angka Kematian Ibu (AKI) mencapai 21 per 10.000 kelahiran hidup. Dengan penduduk di pulau rata-rata 10.000, rasio angka kematian ibu ini menjadi cukup tinggi.
Pada November 2007, Pemerintah Kabupaten MTB bersama UNICEF berbagi program inovasi pelayanan kesehatan mandiri dengan contoh pendekatan gugus pulau. Dengan pendekatan ini, Kabupaten MTB membagi daerah pelayanannya ke dalam dua gugus besar adalah Gugus Tanimbar Selatan dan Tanimbar Utara.
Setahun lalu, diadakan kerja kalangan Gugus Pulau di Saumlaki dengan penerima Tim District Team Problem Solving (DTPS) Kabupaten MTB, Kepala Puskesmas, dan camat untuk menetapkan Kecamatan Selaru sebagai versi Rumah Tunggu pertama.
Dua tahun pasca penerapan pendekatan gugus pulau, lahirlah inspirasi Rumah Tunggu untuk mengatasi ibu hamil berisiko di pulau-pulau kecil dalam daerah Kabupaten MTB.
Rumah Tunggu dibuat untuk mengatasi dilema ‘tiga telat’ yakni telat untuk mengetahui duduk perkara, telat merujuk, dan terlambat penanganan.
“Tiga terlambat inilah yang paling banyak menjadikan ibu hamil meninggal dunia,” ujar dr. Juliana Ratuanak, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten MTB.
Rumah Tunggu yakni milik penduduk , partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama pelayanan.
”Kekuatan sosialisasi dan mobilisasi Rumah Tunggu yakni pada pendekatan budaya, kekeluargaan, dan agama,” terang dr. Juliana.
“Dalam budaya penduduk di Yamdena, diketahui rancangan Duan Lolat, yaitu penduduk merasa lebih nyaman untuk tinggal di rumah saudara atau rumah saudaranya atau bahkan di rumah orang yang memiliki satu bahasa. Demikianlah Rumah Tunggu yang dipakai ialah milik anggota masyarakat supaya ibu hamil dapat merasa lebih betah,” lanjut dr. Juliana.
Dalam Konsep Duan Lolat, keluarga atau kerabat membiayai biaya pernikahan salah seorang anggota keluarga, juga dimanfaatkan untuk pengembangan ongkos operasional Rumah Tunggu.
”Sekarang masyarakat diajak menggunakan Duan Lolat untuk membiayai keluarga mereka yang sedang dirawat di Rumah Tunggu,” tutur dr. Juliana.
Penerapan budaya setempat dalam mengelola program Rumah Tunggu ini turut merenggangkan beban pemerintah.
”Dana yang dilaokasikan Pemerintah Kabupaten kemudian lebih difokuskan pada ongkos operasional Rumah Tunggu selama digunakan oleh ibu hamil. Masyarakat berkontribusi pada ongkos pemeliharaannya,” terperinci dr. Juliana.
Untuk memaksimalkan pengelolaan Rumah Tunggu dan agar praktik ini mampu lebih gampang direplikasi di daerah lain, Pedoman Rumah Tunggu dibuat pada tahun 2007. Pedoman Rumah Tunggu menampung gosip ihwal persyaratan penetapan rumah tunggu, kriteria ibu hamil beresiko, dan alokasi ongkos operasional.
Kriteria ibu hamil riskan disusun biar sang ibu menerima prioritas perlindungan perama di Rumah Tunggu dengan mekanisme yang sempurna. Pedoman Rumah Tunggu juga mengontrol periode waktu untuk menggunakan Rumah Tunggu, adalah sekitar satu hingga dua ahad. Prioritas juga diberikan kepada ibu hamil yang bertempat tinggal di daerah dengan kanal transportasi terbatas.
Rumah Tunggu pertama kali didirikan di Kecamatan Selaru. Saat itu kawasan ini mengalami angka kematian ibu dan bayi yang cukup tinggi. Sebanyak 5 ibu dan 27 bayi meninggal dari tahun 2005 sampai 2007. Sejak kedatangan Rumah Tunggu di Selaru, angkat ajal bayi menurun hingga setengahnya di tahun 2009.
Kehadiran Rumah Tunggu terbukti menolong dalam membantu ibu yang riskan tinggi melakukan persalinan dengan selamat. Angka kematian ibu menurun demikian pula dengan ajal bayi yang baru dilahirkan.
”Melihat keberhasilan ini, pada November 2011, kami mendirikan satu Rumah Tunggu lagi di Seira dan pada awal 2012 kami mendirikan di Larat,” jelas dr. Juliana yang juga sudah mereplikasi Kemitraan Bidan dan Dukun, suatu Praktik Cerdas dari Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Dalam Kemitraan Bidan dan Dukun, suatu persalinan ditangani secara medis oleh bidan dan bantuan psikis dan spiritual diberikan oleh seorang dukun.
Hingga pertengahan tahun 2012, tidak ada lagi ibu yang meninggal dalam proses persalinan di Selaru. Di Seira, terjadi satu kali insiden ibu meninggal. Pada tahun-tahun sebelumnya, ajal ibu dikala persalinan dalam setahun rata-rata 3 bahkan 4 jiwa.
Rumah Tunggu di Larat yang gres beroperasi 8 bulan telah melayani persalinan dari 14 ibu hamil dengan resiko tinggi. Semua proses persalinan di Rumah Tunggu di Larat mampu dikerjakan dengan baik.
Angka ibu meninggal saat melahirkan di Kabupaten MTB tahun 2007 sampai 2011 menurun, yakni dari 21 orang menjadi 10 orang. Demikian pula dengan ajal bayi, tahun 2007 mencapai 74 masalah, pada 2012 menurun menjadi 27 perkara.
Perubahan yang baik lainnya yakni meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memakai fasilitas kesehatan.
”Konsep pendekatan budaya dan agama memang sangat mengena di penduduk . Saat ini kian banyak ibu hamil yang ingin melahirkan datang ke Rumah Tunggu atau Puskesmas, utamanya ibu-ibu yang tidak mempunyai ongkos untuk persalinannya,” jelas Suzana.
Menyikapi meningkatnya jumlah ibu yang rutin memeriksakan kehamilan dan siring dengan perluasan layanan Rumah Tunggu ke tiga lokasi di Yamdena, kini Rumah Tunggu memiliki dua sentra acuan. Untuk gugus Tanimbar Selatan sentra referensi ialah RSUD PP Margreti, sedangkan gugus Tanimbar Utara di Puskesmas Larat.
Keberhasilan Rumah Tunggu masih diselimuti tantangan. Besarnya ongkos operasional yang harus dikeluarkan selama ibu hamil bermalam di Rumah Tunggu termasuk salah satu di antaranya.
”Butuh koordinasi yang apik antara pemerintah dan penduduk sendiri,” tutur Suzana yang menyaksikan pergantian yang terjadi dan merasakan pengaruh faktual kedatangan Rumah Tunggu.
Bidan Suzana, Bidan Sarlina, Walowahani Adrian, dan dr. Juliana bisa lebih berlega hati kini walau menyadari usaha mereka belum selesai. Sebagai tenaga kesehatan yang ditempatkan di tempat terpencil dan daerah yang kurang disukai, mereka tahu bahwa mereka tetap mesti mempertaruhkan nyawa mereka setiap kali pergi bertugas.
“Ini adalah panggilan aku dan telah menjadi konsekuensi bila harus mengabdi ke kawasan terpencil,” ucap dr. Juliana.
”Kebahagiaan yang ada di hati aku yakni bukan alasannya aku mendapatkan sesuatu, tetapi sebab sudah memberi sesuatu, khususnya bagi mereka yang sulit. Senyuman mereka telah membahagiakan hati aku,” imbuh dr. Juliana sambil tersenyum.
Perjuangannya bersama petugas kesehatan dan ibu-ibu di Yamdena sekarang makin berarti. Semoga tidak ada lagi ibu hamil yang telat ditolong dengan keberadaan Rumah Tunggu.
Sumber : http://praktikcerdas.bakti.or.id/
Originally posted 2018-05-14 07:00:31.
0 Response to "Rumah Tunggu Turunkan Angka Maut Ibu Dan Anak Di Maluku Tenggara Barat"
Post a Comment