Sandal Bandol, Riwayat Ikon Ekonomi Rumahan Di Banyumas

Dari Ban Bekas Menjadi Barang Berguna


Potensidesa.com – Mendengar kata sandal bandol, bagi masyarakat Banyumas Jawa Tengah, pastinya telah tidak asing lagi di indera pendengaran. Sandal yang yang dibuat dari bahan ban bekas ini kini menjadi salah satu simbol riwayat perekonomian di tempat selatan Jawa Tengah.


Bandol sendiri ialah akronim ban bodol yang mempunyai arti ban rusak dalam bahasa banyumasan. Bagi penduduk di Banyumas periode itu, ban bodol kerap dibuang sesudah tak lagi dipakai pada kendaraan. Adalah Madseh yang mengawali untuk mengolah barang bekas pakai tersebut menjadi bantalan kaki.


Menurut seorang perajin sandal bandol di Desa Keniten, Daryanto (50), Madseh yang berasal dari Grumbul Banaran Kelurahan Pasir Kidul Purwokerto Barat memulai pembuatannya di tahun 1950-an.


“Saat itu, di wilayah Banaran sering dijadikan transit kendaraan besar yang mengubah ban. Di daerah tersebut, banyak tumpukan ban bekas. Kondisi inilah yang membuat Pak Madseh untuk membuat ban menjadi sesuatu yang memiliki kegunaan,” ungkapnya dikala ditemu penadesa, sementara waktu lalu.


Pengolahan ban bekas tersebut menjadi sandal untuk dipakai dalam keseharian pun dilaksanakan dengan sangat sederhana. Dengan memakai alat mirip pisau, palu dan paku, Madseh membuat sandal dari ban badol.


Cara menjadikannya pun sederhana, materi dari ban bekas tersebut dipaku antara materi satu dengan yang lainnya menjadi berupa sandal jepit. Dengan versi yang masih sungguh sederhana tersebut, sandal bandol pun mulai banyak dibuat . 


Namunera itu pelanggan banyak yang mengeluh dengan mutu sandal yang yang dibuat dari ban bekas ini.  “Banyak konsumen mengeluhkan kualitas sandal yang terbuat dari ban bekas ini, karena kalau digunakan, warna hitam dari ban bekas membekas di telapak kaki,” jelasnya.


Mempelajari kelemahan tersebut, beberapa perajin sandal bandol tak kekurangan logika. Mereka mulai menimbang-nimbang cara supaya tidak ada lagi noda hitam saat mengenakan sandal tersebut.


“Kemudian dipilih materi spon untuk melapisi ban bekas,” ucapnya


Sejak dikala itu, perajin mulai menggunakan lem dan benang sebagai bahan perekat. Tapi, penemuan tidak hanya berhenti di situ,  mereka terus berkreasi tidak cuma terpaku pada satu materi ban bekas saja. 


Penggunaan materi kulit, spon, karet, dan artifisial membuat perajin lebih bebas berkreasi.  Dari yang semula cuma memproduksi sandal bandol dengan versi sederhana, kini bermunculan beberapa model sandal baru yang lebih bagus,” tuturnya.


Menghasilkan Potensi Ekonomi


Pun hasil olahan dari ban bekas tidak hanya berhenti di sandal, tetapi sekarang banyak perajin juga memproduksi sepatu dalam beberapa model yang menarik dan bermutu yang tak kalah dengan produk pabrik. 


Saat ini, dari jumlah perajin sandal bandol di Banyumas kian menjamur di beberapa tempat tak hanya di Banaran saja. “Saat ini bahkan sudah ada perajin yang membuka usaha sandal bandol di Cilongok, Kedungbanteng dan beberapa tempat yang lain di Banyumas,” ungkapnya.


Dari data jumlah industri rumahan yang bernaung dibawah paguyuban sandal bandol Simba Banaran, tercatat ada sekitar 52 industri rumahan yang memproduksi sandal bandol di tempat Banaran. Dengan mempekerjakan sekitar 500-an tenaga kerja dari masyarakatsekitar.


Kini, limbah yang  terbuang tanpa harga, sudah disulap menjadi produk bernilai ekonomi dan ramah lingkungan. Hasil kreatifitas tangan masyarakat pula yang ikut menopang kehidupan perajin sandal bandol di Banyumas, Jawa Tengah.


Yudi Setiyadi


0 Response to "Sandal Bandol, Riwayat Ikon Ekonomi Rumahan Di Banyumas"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel