Suburnya Ekonomi Di Desa Pembibitan
Ayunan pancong yang dihujamkan ke tanah oleh petani perempuan, Tiwen (55) masih terdengar dari sebuah ladang di pinggir jalan Desa Dawuhanwetan Kecamatan Kedungbanteng Banyumas pada Minggu (24/11) siang.
Bentangan kain gorden yang disangga sebilah bambu menjadi pelindung teriknya mentari sepanjang siang itu. Bagi Tiwen, hari ahad bukanlah waktunya berlibur mirip pada umumnya orang. Guratan semangat itu masih nampak terperinci di raut paras Tiwen.
“Daripada di rumah nganggur, mending aku melakukan pekerjaan di sini untuk membantu suami”, ungkap Tiwen dikala ditemui di tengah ladang pembibitan.
Desa di selatan kaki gunung slamet ini, sekarang telah menyandang nama sebagai desa sentra pembibitan tumbuhan. Berbagai macam bibit flora mampu didapatkan dengan mudah di desa ini, mulai dari bibit tanaman kayu keras dan juga bibit tanaman buah-buahan. Di sepanjang jalan desa ini terhampar hijauan bibit flora di kanan dan kirinya.
“Awalnya yang ditanam masyarakat sini cuma bibit flora cengkeh, Haji Sulaiman selaku kepala desa pada tahun 1959 yang memberikan inspirasi budidaya bibit untuk masyarakat pada mulanya”, tutur Ahmad Saefudin(76) salah satu penangkar bibit. Sejak dikala itu masyarakat mulai bersahabat dengan bibit tanaman, dan terus meningkat sampai kini. Ribuan bibit flora dengan keragaman jenisnya telah menjadi produk pujian desa dawuhanwetan.
Pesanan bibit tanaman pun tidak cuma datang dari pembeli lokal saja, banyak pembeli bibit yang juga datang dari luar pulau jawa. Karena nama desa yang sudah cukup populer ini, penjualan pun hanya mengandalkan pembeli yang datang secara pribadi ke desa ini. Ada sebagian pembeli yang tiba diantar oleh makelar yang ikut memasarkan bibit tumbuhan.
Menurut Ahmad Saefudin keberadaan makelar tidak begitu merugikan bagi para penangkar bibit, tetapi justru menolong pemasarannya. “adanya makelar tidak begitu merugikan, mereka malah menolong pemasaran, kan sama-sama nyari makan”.
Lapangan pekerjaan pun terbuka lebar di desa ini. Banyak mantan buruh migran yang menentukan bertahan di desa dan tidak kembali melakukan pekerjaan di luar negeri. Mereka lebih memilih mendulang rejeki di lahan desanya.
Mereka lebih memilih menggeluti menjadi petani penangkar bibit, sebab potensi usaha terbuka cukup lebar. “Banyak mantan buruh migran yang lebih menentukan menjadi penangkar bibit, dan tidak kembali bekerja di mancanegara”, ungkap Nasrul(35) kasi pembangunan di pemerintahan desa.
Pembibitan telah menjadi nadi perekonomian masyarakat Desa Dawuhanwetan. Mulai dari anak muda hingga orang tua telah bergelut dengan tanah dan tanaman setiap harinya. Ekonomi keluarga pun tertopang dengan pesatnya perputaran uang di desa ini.
Sebagian ibu rumah tangga ikut melakukan pekerjaan dan memiliki penghasilan sendiri, menolong penghasilan keluarga dari suami mereka. Anak putus sekolah tidak lagi bingung mencari pekerjaan, alasannya adalah mereka mampu bekerja sebagai langsir (buruh bongkar muat bibit).
Yudi Setiyadi
0 Response to "Suburnya Ekonomi Di Desa Pembibitan"
Post a Comment