Konservasi Bambu, Desa Sanankerto Jaga Sumber Mata Air Dan Debit Air Embung Untuk Pengembangan Pertanian Dan Ekowisata
Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, mempunyai cara sendiri dalam menjaga debit air embung agar tetap stabil, yaitu dengan melaksanakan konservasi bambu secara berkelanjutan. Alhasil, warga dan petani tidak perlu kuatir kekurangan air untuk lahan pertaniannya sehingga hasil panennya stabil. Bahkan, lingkungan sekitar embung bertambah asri hingga kawasan itu berkembang menjadi menjadi salah satu destinasi rekreasi.
Sebagian besar warga menggantungkan hidup pada bercocok tanam dan pengairan lahan pertanian, mereka juga tergantung pada air embung. Debit air embung ditunjang oleh keberadaan beberapa sumber mata air di sekitarnya. Sumber mata air memiliki siklus penyediaan air, yang sangat tergantung pada hutan bambu di sekitarnya.
| Nama Inovasi | Konservasi Bambu |
| Pengelola | Pemerintah Desa Sanankerto |
| Alamat | Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur |
| Kontak | H Subur (Kepala Desa Sanankerto) |
| Telepon | +62-822-3278-6333 |
Beberapa kali dilaporkan terjadi penebangan bambu liar sehingga dikhawatirkan mengancam eksistensi sumber mata air dan debit air embung, serta dampaknya pada pertanian. Hutan bambu yang telah tumbuh sejak lama di sekitar embung belum dikontrol dan dijaga dengan baik.
Awalnya, Pemerintah Desa mengajak tokoh-tokoh penduduk untuk bermusyawarah perihal pentingnya menjaga debit air embung, sampai diputuskan untuk melaksanakan konservasi bambu yang berada di sekitar sumber mata air embung. Pemerintah Desa dan warga mencari info terkait konservasi bambu dan tunjangan ke banyak sekali pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Malang.
Pemerintah Desa menjalin komunikasi dengan Balai Pengelola Daerah Aliran Sungai Brantas (BP DASBrantas) melalui Dinas Kehutanan untuk menerima sumbangan teknis dan pinjaman bibit terkait tumbuhan bambu. Lalu, Pemerintah Desa mengantarkan 30 warga desa untuk mengikuti pertemuan dan tutorial teknis yang diadakan BP DAS Brantas. Unsur yang turut dalam bimbingan teknis ialah: perangkat desa, perwakilan BPD, dan tokoh masyarakat.
Pemerintah Desa menghimpun para penerima bimbingan teknis untuk musyawarah dan merumuskan langkah lebih lanjut pengelolaan sumber mata air dan hutan bambu di sekitarnya, sampai tercetus rencana pembentukan Kelompok Tani (Poktan) yang khusus menangani konservasi bambu, struktur organisasi serta peran dan fungsinya.
Kelompok Tani dan Pemerintah Desa menciptakan dan mengajukan anjuran permintaan derma bibit bambu ke BP DAS dan menemukan 4.000 bibit bambu pada 2015, serta 4.000 bibit bambu dan 4000 bambu hias pada 2016.
Kelompok Tani melakukan pemetaan lahan yang memotret eksistensi embung, lahan bambu, dan kondisi sekitarnya. Kelompok Tani melaksanakan penanaman bibit secara bertahap dengan mengacu pada peta lahan yang sudah dibuat.
Perawatan bambu yang gres ditanam dikerjakan secara bersiklus dan paralel dengan pemeliharaan hutan oleh petugas yang ditetapkan secara bergiliran.
Pemerintah Desa memasukkan kegiatan Kelompok Tani untuk konservasi bambu ini kedalam APBDes 2016. Pemerintah desa menjadwalkan konferensi berkala dengan Poktan 1 hingga 2 kali setiap bulan untuk membicarakan pertumbuhan konservasi, penyusunan rencana ke depan serta mempertahankan motivasi Poktan dalam melakukan konservasi.
Desa Sanankerto menjadi sentra bambu berbasis ekowisata di Kabupaten Malang dan melengkapi areal hutan bambu dengan etalase kebun dengan berbagai jenis bambu (arboretum). Pemerintah Desa dan Kelompok Tani terus memperkaya spesies-spesies bambu gres untuk arboretum, salah satunya di sela-sela kunjungan peran ke berbagai kawasan di tanah air.
Selain itu, sumber mata air embung terjaga sepanjang tahun, dengan debit air 700 liter per detik, dan bisa mengairi areal sawah seluas 260 hektare, sehingga hasil pertanian relatif stabil. Kebutuhan air warga desa di demam isu kemarau terjamin Desa Sanankerto didapuk sebagai pusat bambu berbasis ekowisata oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Malang dengan koleksi 14.000 pohon bambu dari 60 spesies berbeda.
Konservasi bambu (kesempatanekowisata bambu) di sekeliling embung dapat terus ditingkatkan menjadi potensi rekreasi edukasi bambu, wisata alam dan penelitian. Perlu peraturan, baik peraturan budpekerti maupun formal, terkait upaya menjaga kelestarian hutan bambu. Pemanfaatan dan pengelolaan hayati di lokasi tertentu di desa untuk kenaikan kemakmuran masyarakat perlu didukung sumberdaya insan dan dana yang mencukupi.
Sumber: Program Inovasi Desa Kementerian Desa PDTT
Originally posted 2018-06-04 08:57:53.
0 Response to "Konservasi Bambu, Desa Sanankerto Jaga Sumber Mata Air Dan Debit Air Embung Untuk Pengembangan Pertanian Dan Ekowisata"
Post a Comment